Bekasi – Potret buram kemiskinan ekstrem kembali mencuat dari Kampung Cabang Kebon Kopi, RT 001 RW 007, Desa Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Pasangan lansia bernama Romli kini harus bertahan hidup dalam kondisi yang jauh dari kata manusiawi, setelah rumah yang mereka tempati ambruk diterjang angin dan hujan.
Selama puluhan tahun, Romli bersama istri dan satu anaknya tinggal di rumah tidak layak huni. Namun kini, bangunan tersebut sudah tidak berbentuk dan tak lagi bisa ditempati. Reruntuhan kayu dan atap menjadi saksi bisu ketidakberdayaan keluarga ini menghadapi kerasnya hidup.
Keterbatasan ekonomi menjadi tembok besar yang tak mampu mereka tembus. Romli hanya bekerja serabutan, bahkan sehari-hari mencari cacing demi menyambung hidup. Penghasilan yang tak menentu membuat harapan untuk memperbaiki rumah nyaris mustahil.
Ironisnya, kondisi memilukan ini bukan tanpa laporan. Warga sekitar mengaku sudah menyampaikan persoalan ini kepada pihak RT dan RW setempat. Namun hingga rumah benar-benar roboh, tak ada tindakan nyata.
“Sudah lama dilaporkan, tapi tidak ditanggapi. Kalau belum viral, sepertinya pemerintah tidak bergerak,” ujar warga dengan nada kecewa, Selasa (20/1/2026).
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius: di mana peran pemerintah desa dan kecamatan? Program bantuan sosial, rumah tidak layak huni (Rutilahu), hingga pendataan warga miskin ekstrem seolah tak menyentuh keluarga Romli.
Warga berharap, pemerintah daerah Kabupaten Bekasi segera turun tangan, bukan menunggu sorotan publik atau tekanan media sosial. Sebab, di balik reruntuhan rumah Romli, ada nyawa, martabat, dan kemanusiaan yang dipertaruhkan.
Jika negara terus abai, maka benarlah anggapan warga: bantuan hanya datang setelah viral, bukan setelah laporan.
Red


