
Bandung — Pernyataan mengejutkan datang dari aktivis anti korupsi Jawa Barat, Bejo Suhendro, dari Lembaga Koordinasi Pemberantasan Korupsi dan Penyelamat Aset Negara Republik Indonesia (LKPK-PANRI). Ia mengaku menerima ancaman serius berupa pembacokan hingga pembunuhan setelah mengkritisi dugaan ketidaksesuaian menu dalam program makan bergizi gratis di Kabupaten Bandung.
Menurut Bejo, ancaman tersebut datang melalui sambungan telepon pada 6 April 2026 sekitar pukul 10.50 WIB saat dirinya berada di SMP Negeri 1 Ciparay, Kabupaten Bandung. Ia mengaku mengenali sosok penelepon yang diduga tersinggung karena kritik yang ia sampaikan terkait menu makanan program MBG yang dinilai tidak sebanding dengan harga yang dilaporkan.
“Nada telepon itu jelas ancaman pembacokan dan pembunuhan terhadap saya. Saya kenal orangnya dan tahu namanya. Ini terjadi setelah saya mengkritisi menu makan bergizi gratis yang diduga tidak sesuai dengan harga barang yang diterima oleh penerima manfaat,” ungkap Bejo dalam keterangannya kepada media, Rabu (11/3/2026).
Bejo menyebut pihak yang diduga tersinggung adalah seseorang berinisial YD, yang disebut sebagai pemilik sekaligus pengelola warung dapur MBG di wilayah Kabupaten Bandung. Kritik tersebut berkaitan dengan menu makanan yang diberikan kepada penerima manfaat pada 7 dan 8 Maret, yang menurutnya tidak mencerminkan nilai anggaran yang semestinya.
Namun yang lebih mengejutkan, Bejo mengaku upayanya untuk melaporkan ancaman tersebut ke Kepolisian Resor Kota Bandung belum diterima.
“Saya sudah datang dan menjelaskan kronologi ancaman tersebut. Tapi laporan saya belum bisa diterima atau ditolak. Padahal ancaman pembacokan dan pembunuhan jelas membahayakan keselamatan saya,” tegasnya.
Ia menilai aparat kepolisian seharusnya lebih jeli menggali informasi dari korban, apalagi ketika pelapor mengaku mengetahui identitas pihak yang mengancam.
“Seharusnya polisi mau menerima laporan dulu, kemudian didalami. Ini menyangkut keselamatan seseorang,” katanya.
Melalui media, Bejo juga menyampaikan pesan kepada masyarakat luas agar lebih berhati-hati ketika mengalami ancaman kekerasan.
“Saya menghimbau masyarakat Indonesia, jika mengalami ancaman pembunuhan atau pembacokan, jangan mudah menyerah untuk melapor. Bukti laporan sangat penting untuk melindungi diri sendiri sebagai korban,” ujarnya.
Ia bahkan berharap informasi ini dapat sampai langsung kepada Jenderal Listyo Sigit Prabowo selaku Kapolri agar jajaran kepolisian di daerah dapat lebih responsif dalam menerima laporan masyarakat yang menyangkut ancaman keselamatan jiwa.
Kasus ini pun berpotensi memantik perhatian publik, terutama terkait dua isu sensitif sekaligus: keamanan aktivis anti korupsi serta pengawasan program makan bergizi gratis yang menggunakan anggaran publik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Polresta Bandung maupun dari pihak yang disebutkan dalam tudingan tersebut. Publik kini menunggu langkah aparat penegak hukum untuk menelusuri kebenaran ancaman tersebut sekaligus memastikan perlindungan bagi pelapor.
Red

