Karawang – Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, Ujang Suhana, SH. menyampaikan pesan tegas dan menggugah: pendidikan bukan sekedar rutinitas tahunan, melainkan fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045. Dengan mengusung tema “Pendidikan Bermutu, Indonesia Maju, Jawa Barat Istimewa”, ia menekankan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas generasi mudanya hari ini.
Mengutip falsafah Prabu Siliwangi dan pemikiran Soekarno, Ujang menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak berhenti pada ijazah, melainkan membentuk manusia utuh, berkarakter, berilmu, dan berintegritas.
CAGER–BAGER–BENER–PINTER–SINGER: 5 Pilar Pendidikan Sejati
Dalam pernyataannya, Ujang merumuskan lima nilai utama yang harus menjadi pegangan generasi muda:
• Cager (Sehat Jasmani & Rohani)
Generasi muda diminta menjauhi narkoba, judi online, dan gaya hidup merusak. “Tubuh sehat adalah syarat utama kecerdasan. Tanpa itu, mimpi hanya ilusi,” tegasnya.
• Bager (Berakhlak Mulia)
Ia mengingatkan, kepintaran tanpa adab adalah ancaman. Fenomena perundungan dan krisis moral di kalangan pelajar dinilai sebagai alarm serius bagi dunia pendidikan.
• Bener (Integritas & Kejujuran)
Ujang menyoroti maraknya praktik tidak jujur seperti plagiarisme hingga korupsi dana pendidikan. “Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur,” ujarnya tajam.
• Pinter (Cerdas Intelektual & Sosial)
Penguasaan teknologi, AI, dan pendidikan tinggi menjadi keharusan. Namun ia mengingatkan, kecerdasan harus berpihak pada kepentingan rakyat, bukan kesombongan pribadi.
• Singer (Adaptif & Inovatif)
Di era disrupsi, kecepatan beradaptasi adalah kunci. “Yang lambat akan tergilas. Pemuda harus lebih cepat dari perubahan itu sendiri,” katanya.
Pesan Keras untuk Pemuda Jawa Barat
Secara khusus, Ujang menyasar generasi muda di Jawa Barat. Ia mengingatkan bahwa wilayah industri seperti Karawang tidak boleh hanya melahirkan buruh, tetapi juga pemimpin dan pemilik usaha.
“Jangan bangga jadi penonton di tanah sendiri. Kuasai teknologi, hukum, dan industri. Kalau tidak, kita hanya akan jadi tamu di rumah sendiri,” kritiknya.
Ia juga menyinggung praktik-praktik menyimpang seperti calo kerja dan korupsi dana publik, termasuk dana pendidikan dan program sosial, yang dinilai sebagai pengkhianatan terhadap masa depan bangsa.
Indonesia Emas 2045: Antara Mimpi dan Kenyataan
Mengutip pidato legendaris Bung Karno “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia” Ujang menambahkan syarat penting: pemuda itu harus memiliki lima karakter utama yang ia gaungkan.
Menurutnya, bonus demografi bisa berubah menjadi bencana jika generasi muda terjebak narkoba, malas belajar, dan kehilangan integritas.
“Anggaran pendidikan besar akan sia-sia jika mental korupsi masih merajalela,” tegasnya.
Amanat untuk Semua Elemen Bangsa
Dalam pesannya, Ujang juga menyoroti tanggung jawab seluruh pihak:
• Pelajar: Manfaatkan hak pendidikan dengan belajar sungguh-sungguh sesuai amanat UUD 1945.
• Mahasiswa: Jalankan Tridharma, jangan hanya turun ke jalan tanpa solusi.
• Guru: Jadilah teladan moral dan intelektual.
• Negara: Wajib menjaga anggaran pendidikan dan tidak menyimpang dari konstitusi.
Penutup: Seruan Melawan Kebodohan
Menutup pernyataannya, Ujang kembali mengutip semangat leluhur Sunda dan Bung Karno:
“Bangsa yang bodoh adalah bangsa yang mudah dijajah. Tapi bangsa yang CAGER, BAGER, BENER, PINTER, dan SINGER adalah bangsa yang merdeka selamanya.”
Ia pun menyerukan kepada seluruh generasi muda Indonesia untuk bangkit, belajar, dan berjuang melalui pendidikan.
“Hardiknas bukan seremoni. Ini adalah panggilan untuk melawan kebodohan dan membangun masa depan bangsa.”


