
Karawang — Momentum Hari Pendidikan Nasional tak lagi cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan. Lebih dari itu, hari bersejarah ini menjadi ruang refleksi mendalam tentang peran setiap individu dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter.
Hal tersebut disampaikan oleh Syarif Hidayat, atau yang akrab disapa Alim. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan berkarakter menjadi fondasi penting, tidak hanya dalam dunia pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan sosial secara luas.
Menurutnya, esensi pendidikan tidak berhenti pada transfer ilmu pengetahuan semata, melainkan harus mampu melahirkan pribadi yang memberi dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya.
“Jadilah pribadi yang mampu memberi arah saat di depan, menyalakan semangat saat bersama, dan tetap setia memberi dorongan meski tak terlihat. Karena sejatinya, keberhasilan bukan hanya tentang siapa yang paling menonjol, tapi siapa yang mampu menguatkan dan mengangkat orang lain untuk ikut maju,” tegasnya, Sabtu (2/5/2026).
Pernyataan tersebut selaras dengan nilai luhur yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara melalui filosofi kepemimpinan pendidikan: Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, yang mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan, penggerak, sekaligus pemberi dorongan.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pesan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian individu, tetapi dari kemampuan kolektif untuk tumbuh bersama. Peran pemimpin, guru, hingga insan pers dituntut menjadi penggerak perubahan, baik saat berada di garis depan, di tengah, maupun di belakang.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei pun diharapkan tidak berhenti pada simbol dan seremoni, melainkan menjadi momentum nyata untuk memperkuat komitmen dalam menciptakan generasi yang berkarakter, berdaya saing, dan saling menguatkan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.

