Karawang – Nama Budi Georn kini semakin menarik perhatian publik, khususnya masyarakat Karawang. Tokoh masyarakat asal Perum Karaba Indah, Desa Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang itu dikenal sebagai sosok yang aktif dalam kegiatan sosial, petualangan, hingga kepemimpinan komunitas yang mengedepankan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap masyarakat.
Melalui komunitas GEORN Beyond Adventure, Budi Georn menghadirkan wadah positif bagi masyarakat untuk mempererat solidaritas, membangun jiwa kepemimpinan, serta menumbuhkan kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar. Komunitas tersebut juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan rescue dan aksi sosial kemasyarakatan yang mendapat apresiasi dari warga.
Dalam pertemuan santai bersama sejumlah awak media di kediamannya, Sabtu (23/5/2026), Budi Georn menyampaikan pandangannya mengenai makna kepemimpinan yang sesungguhnya. Menurutnya, seorang pemimpin bukan hanya berbicara soal jabatan maupun kekuasaan, tetapi tentang kemampuan memberi inspirasi dan membawa banyak orang menuju keberhasilan bersama.
“Leadership terbaik bukanlah tentang memimpin dengan keserakahan, tapi tentang menginspirasi melalui integritas, keadilan dan kemampuan untuk membimbing yang lain menuju kesuksesan bersama,” ujar Budi Georn.
Pernyataan tersebut dinilai mencerminkan gaya kepemimpinan yang sederhana namun penuh makna. Di lingkungan masyarakat, Budi Georn dikenal dekat dengan warga dan kerap menjadi tempat berdiskusi mengenai persoalan sosial hingga pembangunan daerah.
Dengan gaya santai namun tegas, ia terus mengajak masyarakat menjaga nilai integritas, gotong royong, dan kerja sama demi menciptakan lingkungan yang harmonis serta berkembang. Kehadiran komunitas GEORN Beyond Adventure juga diharapkan menjadi ruang positif bagi generasi muda Karawang untuk belajar tentang kepemimpinan, kekompakan, keberanian, serta semangat petualangan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Tak sedikit warga menilai, figur seperti Budi Georn menjadi bukti bahwa komunitas dapat menjadi kekuatan sosial yang mampu membawa perubahan positif sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
Selain aktif dalam kegiatan sosial, Budi Georn juga menyoroti berbagai persoalan demokrasi dan kehidupan sosial masyarakat. Dalam sebuah pernyataannya, ia menilai demokrasi tidak selalu mampu menentukan kebenaran dan kebaikan secara utuh karena sesuatu kerap dianggap benar hanya berdasarkan suara mayoritas.
“Kadang-kadang sesuatu yang menurut kita tidak baik, bisa dianggap baik ketika orang banyak mengatakan itu baik,” ujarnya.
Menurut Budi, kondisi tersebut menjadi salah satu kelemahan demokrasi. Ia menilai ada situasi di mana suara terbanyak justru dapat mengaburkan substansi kebenaran yang sesungguhnya.
“Inilah kelemahan demokrasi. Bukan berarti demokrasi itu sempurna. Ada hal-hal yang menurut saya kurang pas,” katanya.
Ia juga menggambarkan dilema ketika seseorang mempertahankan sesuatu yang diyakininya benar, namun harus berhadapan dengan pandangan mayoritas yang berbeda. Dalam kondisi itu, opini publik sering kali lebih dominan dibanding nilai kebenaran itu sendiri.
Selain itu, Budi menyinggung bagaimana satu kesalahan sering mampu menutupi banyak kebaikan yang pernah dilakukan seseorang. Menurutnya, realitas sosial saat ini membuat masyarakat lebih mudah menyoroti keburukan dibanding menghargai kontribusi maupun niat baik seseorang.
Meski demikian, ia tetap menekankan pentingnya menjaga semangat kebersamaan dan saling memaafkan dalam menghadapi perbedaan pandangan di tengah masyarakat.
Di sisi lain, Budi Georn juga menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga “ilmu padi” sebagai bagian dari warisan pengetahuan tradisional masyarakat desa. Menurutnya, ilmu padi bukan hanya tentang menanam dan memanen, tetapi juga mencakup pemahaman mendalam mengenai alam, tata kehidupan, hingga filosofi masyarakat agraris.
Ia menjelaskan bahwa generasi terdahulu memiliki pengetahuan kuat mengenai tata kelola pertanian, mulai dari cara menanam, memahami kondisi tanah, hingga menentukan penggunaan lahan yang diwariskan secara turun-temurun. Bahkan di beberapa daerah, masyarakat memiliki konsep ketahanan pangan yang mampu menjaga keberlangsungan hidup warga selama bertahun-tahun meski menghadapi masa sulit panen.
Budi menilai konsep lumbung padi desa yang dahulu menjadi kekuatan masyarakat kini mulai hilang dan kurang mendapat perhatian serius. Menurutnya, setiap desa seharusnya memiliki cadangan pangan atau lumbung padi yang dikelola bersama demi menjaga ketahanan masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya peran pemimpin desa dalam menjaga nilai budaya, gotong royong, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat kampung. Dalam penyampaiannya, Budi mengaku prihatin karena generasi muda saat ini mulai jauh dari pemahaman mengenai proses pertanian. Banyak anak-anak, katanya, hanya mengenal beras sebagai produk jadi tanpa memahami asal-usul padi maupun proses menanamnya.
Karena itu, ia berharap ada upaya nyata untuk mengajarkan kembali ilmu padi kepada generasi muda melalui pendidikan budaya, kehidupan kampung, dan pengalaman langsung di lingkungan pertanian.
Menurutnya, konsep kampung budaya seharusnya menjadi sarana pelestarian pengetahuan tradisional, bukan sekedar simbol atau formalitas. Ia berharap masyarakat dan pemerintah dapat bersama-sama menjaga warisan budaya pertanian agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Penulis: Alim


