Di Balik Gemerlap QNF Chapter 5, Seniman Karawang Bicara: Dari Passion, Kritik Sosial, hingga Mimpi Besarkan Industri Kreatif Lokal

0
Caption: Di Balik Gemerlap QNF Chapter 5, Seniman Karawang Bicara: Dari Passion, Kritik Sosial, hingga Mimpi Besarkan Industri Kreatif Lokal

KARAWANG – Gemerlap panggung Quarter Night Festival (QNF) Chapter 5 bukan hanya soal musik dan deretan penampil. Di balik kemeriahan festival, para seniman dan pelaku industri kreatif Karawang justru mencuri perhatian lewat kisah perjuangan, idealisme, hingga harapan mereka untuk membesarkan ekosistem kreatif daerah.

Momen tersebut tersaji dalam sesi diskusi Gala Premiere QNF Chapter 5 yang berlangsung di Studio 2 CGV Cinemas Technomart Karawang, Jumat (3/7/2026) malam. Hadir pelukis Tanjek Haris Bonandar atau yang akrab disapa Bang Jack, visual artist Gema, serta Creative Director Karawang Trend Market (KTM), Evis Sanjaya.

Berawal dari Scene Hardcore, Kini Bangun Ruang Kreatif Karawang

Creative Director Karawang Trend Market, Evis Sanjaya, mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap dunia kreatif lahir dari kedekatannya dengan scene musik hardcore.

Berawal dari membuat visual untuk merchandise dan kebutuhan band-band lokal, passion tersebut berkembang hingga melahirkan Karawang Trend Market, sebuah wadah kolaborasi bagi brand lokal, komunitas kreatif, dan pelaku industri kreatif di Karawang.

“Saya berangkat dari passion. Awalnya dekat dengan scene hardcore, lalu banyak membuat visual untuk merchandise dan kebutuhan band. Dari situ akhirnya terbentuk Karawang Trend Market,” ujar Evis.

Tak hanya menjadi ruang berkumpul, KTM juga aktif mengenalkan budaya screen printing, fingerboard, hingga berbagai subkultur kreatif yang selama ini tumbuh di Karawang.

Dari Mengamen hingga Melahirkan Karya Sarat Kritik Sosial

Perjalanan inspiratif juga datang dari Bang Jack. Pelukis senior asal Karawang itu mengisahkan bagaimana hobinya melukis sejak masa sekolah perlahan berubah menjadi profesi yang ia tekuni hingga sekarang.

Perjalanannya tidak selalu mudah. Bang Jack pernah menerima berbagai pesanan lukisan, melukis potret keluarga, bahkan mengamen sambil tetap berkarya demi mempertahankan kecintaannya terhadap seni.

“Awalnya memang hobi, lama-lama jadi profesional. Dulu menerima pesanan lukisan, melukis foto, bahkan pernah mengamen sambil berkarya. Sampai sekarang masih terus melukis,” ungkapnya.

Sekitar enam tahun terakhir, Bang Jack memilih meninggalkan gaya realis dan membangun karakter visual yang menjadi identitasnya. Melalui karya-karyanya, ia banyak menyuarakan isu sosial yang terjadi di masyarakat.

Salah satu lukisan yang dipamerkan di Gala Premiere memperlihatkan figur-figur yang duduk di atas meja dengan latar pepohonan yang mulai gundul.

Bagi Bang Jack, lukisan itu bukan sekedar karya seni, melainkan bentuk kritik terhadap kerusakan lingkungan dan praktik kekuasaan.

“Pohon itu merepresentasikan keadaan hutan kita. Sekarang sudah mulai gundul karena ada kepentingan-kepentingan tertentu,” ujarnya.

Di Era AI, Identitas Seniman Harus Tetap Terjaga

Sementara itu, visual artist Gema menyoroti tantangan baru yang dihadapi para kreator di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, teknologi boleh berkembang, tetapi identitas seorang seniman tidak boleh hilang.

Gema, yang telah berkarya sejak 2015, menilai keberhasilan seorang kreator bukan hanya diukur dari banyaknya karya yang dihasilkan, tetapi dari seberapa mudah publik mengenali ciri khas visualnya.

“Target saya adalah bagaimana orang langsung tahu ini karya saya hanya dari melihat visualnya. Identitas itu yang harus dijaga,” tuturnya.

Karakter ilustrasi yang kuat itulah yang membuat Gema dipercaya menjadi visual artist QNF Chapter 5 dengan konsep sinematik yang menjadi identitas festival tersebut.

Kolaborasi Jadi Kunci Majunya Industri Kreatif Karawang

Diskusi malam itu memperlihatkan bahwa perkembangan industri kreatif tidak bisa dibangun sendirian.

Para pembicara sepakat, kolaborasi antara festival, seniman, komunitas, pelaku usaha kreatif, hingga UMKM menjadi fondasi penting agar ekosistem kreatif Karawang terus berkembang.

Bagi mereka, QNF bukan sekedar panggung musik, melainkan ruang bertemunya berbagai ide, karya, dan mimpi anak-anak muda Karawang.

Harapannya, semakin banyak ruang kolaborasi yang lahir sehingga para pelukis, ilustrator, desainer, komunitas kreatif, hingga pelaku UMKM lokal memiliki kesempatan lebih besar untuk menunjukkan karya mereka kepada publik.

Dengan semangat itu, para seniman optimistis Karawang mampu melahirkan lebih banyak talenta kreatif yang tidak hanya dikenal di daerah sendiri, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini