Dari Balik Jeruji Menuju Kemandirian: IWOI Karawang dan Lapas Kelas IIA Karawang Bangun Sinergi Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional

0
Caption: Dari Balik Jeruji Menuju Kemandirian: IWOI Karawang dan Lapas Kelas IIA Karawang Bangun Sinergi Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional

Karawang – Wajah baru pembinaan di Lapas Kelas IIA Karawang mulai menarik perhatian publik. Tidak lagi sekedar menjadi tempat menjalani masa pidana, lembaga pemasyarakatan kini menjelma menjadi pusat pemberdayaan melalui program ketahanan pangan yang melibatkan langsung para warga binaan.

Komitmen tersebut semakin diperkuat melalui sinergi antara Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) DPD Karawang dan Lapas Kelas IIA Karawang, yang sepakat membangun kolaborasi dalam mendukung program ketahanan pangan nasional sekaligus memperkenalkan berbagai inovasi pembinaan kepada masyarakat.

Ketua IWOI DPD Karawang, Syuhada Wisastra, memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Ma’ruf Prasetyo Hadianto, melalui program Laskar Farm yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan sebagai sarana pembinaan warga binaan.

“Yang dulu hanya lahan kosong, kini berubah menjadi kawasan produktif yang luar biasa. Ini menjadi bukti bahwa ketahanan pangan bukan sekedar slogan, tetapi benar-benar diwujudkan. Lapas Karawang layak menjadi contoh bagi lapas lain maupun pemerintah desa,” ujar Syuhada, Selasa (7/7/2026).

Menurut Syuhada, Karawang sebagai lumbung padi nasional memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan. Karena itu, media memiliki tanggung jawab untuk mengangkat berbagai inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia menegaskan, sinergi antara IWOI dan Lapas Karawang tidak boleh berhenti pada publikasi semata, tetapi harus berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan dalam mendukung pembinaan dan pemberdayaan warga binaan.

“Kami siap membantu menyampaikan kepada masyarakat bahwa Lapas Karawang telah menghadirkan inovasi yang patut diapresiasi. Media tidak hanya memberitakan, tetapi juga harus ikut mendorong lahirnya perubahan positif,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Ma’ruf Prasetyo Hadianto, mengatakan keterbukaan kepada media merupakan bagian dari implementasi arahan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan agar masyarakat mengetahui berbagai program pembinaan yang dijalankan di dalam lapas.

Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam mengubah stigma negatif terhadap lembaga pemasyarakatan dan para mantan warga binaan.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa di balik tembok lapas ada proses pembinaan yang serius. Warga binaan kami dibekali keterampilan agar memiliki kesempatan kedua untuk kembali menjadi pribadi yang produktif di tengah masyarakat,” ungkap Ma’ruf.

Melalui program Laskar Farm, Lapas Karawang mengelola lahan pertanian seluas 1,7 hektare yang ditanami padi, jagung, dan singkong, dipadukan dengan peternakan ayam kampung unggul, domba, sapi, serta budidaya perikanan sebagai sistem ketahanan pangan yang terintegrasi.

Program tersebut dikerjakan langsung oleh warga binaan yang mendapatkan pelatihan dan pendampingan sehingga memiliki bekal keterampilan ketika kembali ke lingkungan masyarakat.

Tak hanya menghasilkan produk pertanian dan peternakan, Lapas Karawang juga mengembangkan berbagai produk UMKM hasil karya warga binaan, seperti telur ayam kampung, roti (bakery), minuman barista, hingga produk olahan lainnya yang memiliki nilai ekonomi.

“Laskar Farm bukan hanya menghasilkan pangan, tetapi juga membangun mental, keterampilan, dan kepercayaan diri warga binaan agar mampu mandiri setelah bebas,” jelas Ma’ruf.

Ke depan, Lapas Karawang membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan media, dunia pendidikan, pelaku usaha, investor, organisasi masyarakat, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya guna memperkuat program pembinaan berbasis ketahanan pangan.

Melalui kolaborasi tersebut, Lapas Kelas IIA Karawang berharap mampu mewujudkan visi “Pembinaan Menuju Kemandirian”, sekaligus membuktikan bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pembinaan yang mampu melahirkan sumber daya manusia produktif, mandiri, dan siap kembali berkontribusi bagi masyarakat.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini