Bukan Sekedar Jualan: Perjuangan Bunda Ratu Mengembangkan Nasi Mentai hingga 100 Porsi

0
Caption: Bukan Sekedar Jualan: Perjuangan Bunda Ratu Mengembangkan Nasi Mentai hingga 100 Porsi

KARAWANG — Menjalankan usaha kuliner ternyata bukan hanya perkara rasa dan penjualan. Di balik seporsi nasi mentai, ada proses panjang yang menuntut kreativitas, ketelitian, keberanian mencoba, hingga kesabaran menghadapi kegagalan.

Hal itu dirasakan Siti Jubaedah, atau yang akrab disapa Bunda Ratu, warga Perum Tunggakjati Regency, Kelurahan Tunggakjati, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang.

Selama kurang lebih delapan tahun menjalankan usaha, Bunda Ratu mengaku berbagai kendala justru menjadi pengalaman penting dalam mengembangkan produknya.

Salah satu tantangan muncul ketika permintaan nasi mentai mulai meningkat. Pesanan bahkan datang dari lingkungan sekolah, dengan kebutuhan awal di salah satu SMAIT mencapai sekitar 100 porsi.

Meningkatnya pesanan tentu menjadi peluang. Namun, Bunda Ratu tidak ingin peningkatan biaya produksi otomatis membuat harga jual ikut melonjak.

Di sinilah kreativitas diuji.

Produk nasi mentai membutuhkan proses pembakaran untuk menghasilkan cita rasa dan tampilan yang diinginkan. Persoalannya, penggunaan wadah harus diperhitungkan agar makanan dapat dibakar tanpa membuat kemasan ikut terbakar.

Bersama suaminya, H. Wahyu, Bunda Ratu kemudian melakukan berbagai percobaan.

Bahkan, wadah bekas seperti kaleng biskuit sempat dimanfaatkan untuk mencari teknik pembakaran yang tepat.

“Awalnya kami coba-coba dulu menggunakan kaleng bekas. Bagaimana caranya supaya bisa dibakar tetapi tidak sampai kemasannya ikut terbakar. Dari percobaan itu akhirnya kami menemukan tekniknya,” ujar Bunda Ratu, Kamis (27/8/2026).

Namun, proses menemukan teknik tersebut tidak berlangsung instan. Sejumlah percobaan mengalami kegagalan dan harus diperbaiki kembali.

Bagi Bunda Ratu, kegagalan bukan alasan untuk menghentikan usaha. Justru dari proses tersebut muncul gagasan untuk membuat proses produksi menjadi lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas.

“Kami tidak ingin harga nasi mentai terus dinaikkan. Kalau masih ada cara untuk menyiasati proses produksinya, kami coba cari jalan keluarnya,” katanya.

Inovasi Tak Selalu Harus Produk Baru

Menurut Bunda Ratu, inovasi dalam usaha tidak selalu berarti menciptakan menu baru. Cara mengolah makanan, memilih bahan, mempertahankan cita rasa, hingga mencari solusi terhadap persoalan kemasan juga merupakan bagian dari inovasi.

Salah satu perhatian utama adalah saus dan bahan pendukung yang menjadi karakter dalam menu nasi mentai.

Baginya, menjaga kualitas produk menjadi hal penting karena kepuasan pelanggan akan menentukan keberlangsungan usaha.

“Kalau konsumen suka, mereka akan kembali. Karena itu rasa dan kualitas harus tetap dijaga,” ungkapnya.

Delapan Tahun Bertahan dan Terus Belajar

Perjalanan Bunda Ratu menjadi pelaku usaha kuliner juga tidak dimulai dengan kondisi serba mudah.

Sebelum serius mengembangkan usaha, ia pernah bekerja di sebuah bank. Namun, keinginan untuk membangun usaha sendiri membuatnya berani mengambil keputusan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut.

Keputusan itu tentu memiliki konsekuensi. Dunia usaha membutuhkan modal, tenaga, waktu, sekaligus keberanian menghadapi resiko.

Pandemi COVID-19 juga menjadi salah satu tantangan yang ikut menguji perjalanan usahanya.

Meski demikian, Bunda Ratu memilih bertahan dan terus mencari peluang.

“Namanya usaha pasti ada gagal dan berhasil. Yang penting bagaimana kita mencari cara supaya dari kegagalan itu bisa menemukan jalan yang lebih baik,” ujarnya.

Kini, setelah sekitar delapan tahun menjalani dunia usaha, Bunda Ratu berharap nasi mentai yang dikembangkannya dapat semakin dikenal dan memiliki pasar yang lebih luas.

Ia percaya, keberhasilan usaha bukan hanya ditentukan oleh besarnya modal, tetapi juga oleh kemauan untuk belajar, beradaptasi, menjaga kualitas, dan berani mencoba sesuatu yang berbeda.

Dari kaleng bekas hingga pesanan 100 porsi, perjalanan Bunda Ratu menjadi bukti bahwa di balik usaha kuliner sederhana terdapat perjuangan yang tidak sederhana. Kegagalan bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses menemukan inovasi untuk terus bertahan dan berkembang.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini