
KARAWANG — Suasana penuh kegembiraan dan kebersamaan mewarnai Desa Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, Sabtu (5/9/2026). Ribuan warga dari berbagai penjuru desa tumpah ke jalan mengikuti kegiatan jalan santai keliling perkampungan yang digelar pemerintah desa.
Namun, kegiatan tersebut bukan sekedar olahraga bersama.
Di balik langkah kaki warga yang menyusuri jalan kampung, terselip pesan tentang kebersamaan, gotong royong, kepedulian sosial, sekaligus refleksi perjalanan panjang Desa Wadas yang kini memasuki usia 43 tahun sejak dimekarkan pada 29 Agustus 1983.
Antusiasme warga terlihat sejak acara dimulai. Masyarakat dari 12 RW berbondong-bondong mengikuti kegiatan dengan penuh semangat. Suasana semakin meriah dengan penampilan tari-tarian yang dibawakan anak-anak berbakat Desa Wadas.
Panggung sederhana itu seolah menjadi bukti bahwa geliat seni dan budaya masih tumbuh di tengah generasi muda desa.
6.000 Kupon Dibagikan, Hadiah Menggiurkan Menanti
Kemeriahan semakin terasa ketika panitia menyiapkan ribuan kupon door prize bagi masyarakat.
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 6.000 kupon disiapkan dan seluruhnya telah dibagikan kepada warga dari 12 RW di Desa Wadas.
Beragam hadiah menarik disiapkan untuk warga yang beruntung. Mulai dari 6 unit sepeda, 2 kulkas, 2 mesin cuci, televisi, hingga berbagai hadiah lainnya.
“Kami menyiapkan 6.000 kupon, dan alhamdulillah seluruhnya sudah terbagi kepada warga yang berasal dari 12 RW di Desa Wadas,” ungkap panitia pelaksana.
Bagi warga, door prize tentu menjadi daya tarik tersendiri. Namun, semangat yang lebih besar justru terlihat dari antusiasme masyarakat untuk berkumpul dan merayakan momentum bersama.
Bukan Sekedar Hura-Hura, Ada Kepedulian untuk Flores dan NTT
Di tengah kemeriahan acara, Desa Wadas juga menunjukkan sisi lain dari sebuah perayaan.
Kegiatan tersebut turut menjadi momentum kepedulian sosial. Dana donasi yang berhasil dihimpun disalurkan untuk membantu saudara-saudara yang terdampak bencana alam di Flores dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pesan yang ingin disampaikan pun menjadi jelas: kegembiraan tidak harus berhenti untuk diri sendiri.

Ketika warga berkumpul dan bersuka cita, masih ada saudara sebangsa yang membutuhkan uluran tangan.
Semangat berbagi itulah yang membuat perayaan HUT ke-43 Desa Wadas memiliki makna lebih dari sekadar acara seremonial.
Haji Jujun Bicara di Pengujung Masa Jabatan
Ada satu momen yang turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut.
Kepala Desa Wadas, H. Junaedi, yang akrab disapa Haji Jujun, menyampaikan pesan sekaligus refleksi menjelang berakhirnya masa kepemimpinannya.
Bagi Haji Jujun, momentum 43 tahun Desa Wadas bukan hanya tentang merayakan perjalanan desa, tetapi juga menjadi ruang untuk bercermin atas apa yang telah dilakukan selama memimpin.
Ia secara terbuka mengakui bahwa masih terdapat berbagai kekurangan selama masa pengabdiannya.
“Momentum ini juga menjadi momen refleksi. Kinerja saya tentu masih banyak kekurangan,” ujarnya.
Tak berhenti di sana, Haji Jujun juga menyinggung agenda penting yang akan segera dihadapi masyarakat Desa Wadas, yakni pemilihan kepala desa untuk periode 2026–2034.
Dengan nada penuh harap, ia menitipkan masa depan Desa Wadas kepada siapapun yang nantinya dipercaya masyarakat.
“Tentu saja akan segera ada pemilihan Kepala Desa untuk periode 2026–2034. Harapan saya, siapapun yang terpilih nanti, semoga bisa membawa Desa Wadas jauh lebih baik daripada sebelumnya,” katanya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa kepemimpinan di desa bukanlah soal siapa yang paling lama berkuasa, melainkan siapa yang mampu meninggalkan fondasi kebaikan untuk diteruskan.
43 Tahun Berlalu, Wadas Masih Punya Cerita
Perayaan ulang tahun pemekaran Desa Wadas akhirnya bukan hanya menjadi pesta warga.
Jalan santai menjadi simbol kebersamaan. Tari-tarian anak-anak menjadi gambaran masa depan generasi muda. Door prize menjadi hiburan yang menghidupkan suasana. Sementara donasi untuk korban bencana menjadi bukti bahwa kepedulian sosial masih menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat.
Dan di tengah semua itu, ada pesan Haji Jujun yang mungkin akan terus diingat: Desa Wadas harus berjalan ke depan, siapapun yang nantinya memimpin.
Sebanyak 43 tahun perjalanan telah dilewati.
Kini, babak baru segera dimulai.
Pertanyaannya, siapakah yang akan membawa Desa Wadas melangkah menuju delapan tahun berikutnya?
Penulis: Alim

