KARAWANG — Enam tahun bukan waktu yang singkat bagi seorang kepala desa. Di balik meja pemerintahan dan berbagai program pembangunan, ada perjalanan panjang menghadapi persoalan masyarakat, tuntutan pelayanan, keterbatasan, hingga harapan warga yang terus berkembang.
Perjalanan itulah yang direfleksikan Emi Fitria, Kepala Desa Purwamekar, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, saat menyampaikan sambutan dalam momentum Milangkala Desa Purwamekar ke-44, yang digelar di halaman Kantor Desa Purwamekar, Minggu (6/9/2026).
Dengan nada penuh kerendahan hati, Emi mengakui bahwa selama menjalankan amanah sebagai kepala desa masih banyak kekurangan yang dirasakan. Namun, ia memandang kekurangan tersebut bukan sebagai alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses untuk terus berbenah dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
“Bersama, bersolawat bersama, bersodakoh. Karena saya, selaku kepala desa, masih banyak sekali kekurangan,” ungkap Emi dalam sambutannya.
Enam Tahun Mengabdi, Lelah Tetap Ada
Dalam refleksinya, Emi juga menyinggung panjangnya perjalanan seorang kepala desa dalam menjalankan amanah. Ada yang mengabdi enam tahun, delapan tahun, bahkan mencapai 14 tahun setelah menjalani dua periode kepemimpinan.
“Menjabat dua periode masih ada kesempatan satu periode lagi,” ujarnya.
Namun, panjangnya masa pengabdian ternyata tidak selalu berjalan mudah. Emi secara terbuka mengakui pernah berada dalam kondisi lelah.
Di tengah tekanan dan berbagai persoalan kehidupan, ia memilih ibadah sebagai tempat untuk kembali menemukan kekuatan.
“Terakhir saya bilang, karena saya lelah, tumpunya ke ibadah,” tuturnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan sisi manusiawi seorang kepala desa. Di balik status sebagai pemimpin pemerintahan desa, terdapat sosok yang juga bisa merasa lelah, menghadapi kehilangan, dan membutuhkan kekuatan untuk kembali berdiri.
Kenangan Almarhum yang Kembali Hadir
Suasana sambutan semakin emosional ketika Emi mengenang seseorang yang telah meninggal dunia dan pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Saat melantunkan solawat, ingatan terhadap sosok almarhum kembali muncul. Ia menggambarkan sosok tersebut sebagai orang baik dan istimewa yang begitu membekas dalam ingatannya.
“Muka almarhum terus terbayang, dengan baju putih. Beliau adalah orang baik, orang istimewa,” ungkapnya.
Kenangan itu menjadi bagian dari refleksi bahwa perjalanan seorang pemimpin tidak hanya berkaitan dengan program pemerintahan, pembangunan fisik, maupun administrasi desa.
Ada pula manusia-manusia yang datang, menemani perjalanan, kemudian pergi meninggalkan kenangan yang tidak mudah hilang.
Kehilangan Mengajarkan Arti Keteguhan
Emi juga menceritakan pengalaman kehilangan orang terdekat yang pernah membuat dirinya terpukul.
Sebuah kabar mengenai kondisi kesehatan anggota keluarga, menurutnya, dapat datang secara tiba-tiba dan membuat seseorang kehilangan kekuatan.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia selalu berhadapan dengan ujian. Karena itu, Emi mengajak masyarakat untuk memperkuat ibadah, saling mendoakan, dan menjaga kepedulian terhadap sesama.
Ia secara khusus menitipkan doa untuk Desa Purwamekar agar senantiasa diberikan keselamatan, dijauhkan dari berbagai persoalan sosial, serta anak-anak dan generasi mudanya mendapatkan perlindungan.
“Mudah-mudahan Purwamekar masih diselamatkan. Mudah-mudahan anak-anak di Purwamekar dijauhkan dari hal-hal yang tidak baik,” harapnya.
Bagi Emi, harapan tersebut bukan sekedar doa. Kekhawatiran terhadap masa depan generasi muda menjadi bagian penting dari tanggung jawab kepemimpinan di tingkat desa.
Pembangunan, menurut semangat yang ia sampaikan, tidak semestinya hanya diukur dari pembangunan jalan, gedung, atau fasilitas umum. Masa depan anak-anak desa juga merupakan bagian dari keberhasilan pembangunan.
404 Anak Yatim Mendapat Santunan
Semangat kepedulian tersebut kemudian diwujudkan dalam kegiatan sosial pada momentum Milangkala Desa Purwamekar ke-44.
Pemerintah Desa Purwamekar memberikan santunan kepada 404 anak yatim.
Bagi Emi, santunan tersebut bukan sekedar kegiatan seremonial yang berhenti setelah acara milangkala selesai. Ia memastikan kepedulian terhadap para penerima santunan akan tetap dilanjutkan.
“Jumlah santunannya 404 orang. Setelah milangkala, insya Allah tetap kita akan santuni 404 orang, tidak akan dikurangi,” tegasnya.
Bahkan, Emi membuka kemungkinan adanya penambahan sasaran penerima, terutama anak yatim yang telah memasuki jenjang pendidikan SMP.
Ia mengakui kemungkinan masih terdapat anak yang belum terdata sehingga perlu dilakukan evaluasi kembali terhadap data penerima manfaat.
“Barangkali ada yang terlewat. Mudah-mudahan nanti masih bisa kita perhatikan,” katanya.
Jabatan Bisa Berakhir, Manfaat Jangan Ikut Berhenti
Refleksi Emi Fitria dalam Milangkala Desa Purwamekar ke-44 memperlihatkan sisi lain dari kehidupan seorang pemimpin di tingkat desa.
Di balik rutinitas pemerintahan dan berbagai persoalan masyarakat, seorang kepala desa tetaplah manusia biasa. Ada rasa lelah, ada kehilangan, ada kekhawatiran, tetapi juga ada tanggung jawab untuk terus memberikan pelayanan.
Ketika rasa lelah datang, ibadah menjadi tempat untuk kembali menguatkan diri. Ketika kehilangan hadir, doa menjadi jalan untuk menerima. Dan ketika melihat persoalan generasi muda, kepedulian menjadi bagian dari tanggung jawab yang tidak boleh ditinggalkan.
Pada akhirnya, pengabdian bukan semata-mata tentang berapa lama seseorang menduduki kursi kepala desa.
Pengabdian diukur dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan dan seberapa jauh kepedulian dapat dirasakan masyarakat.
Sebab jabatan memiliki batas waktu, tetapi kebaikan tidak mengenal masa jabatan.
Nama seorang pemimpin mungkin suatu hari tidak lagi tercantum dalam struktur pemerintahan. Namun, jika selama masa pengabdiannya ia meninggalkan kepedulian, membantu mereka yang membutuhkan, memperhatikan anak yatim, dan ikut menjaga masa depan generasi muda, maka jejak pengabdiannya akan tetap hidup di tengah masyarakat.
Dan dari halaman Kantor Desa Purwamekar pada Milangkala ke-44 itu, pesan tersebut kembali terdengar: memimpin bukan hanya tentang bertahan di kursi kekuasaan, tetapi tentang bagaimana tetap hadir dan bermanfaat ketika masyarakat membutuhkan.
Penulis: Alim


