280 Komputer, 10 Kelas Industri, hingga Jepang: Strategi H. Rosli Membawa SMKN 1 Karawang Menjawab Tantangan Zaman

0
Caption: 280 Komputer, 10 Kelas Industri, hingga Jepang: Strategi H. Rosli Membawa SMKN 1 Karawang Menjawab Tantangan Zaman

KARAWANG – Mengelola sekolah kejuruan dengan jumlah peserta didik yang terus bertambah bukan perkara sederhana. Di balik meningkatnya jumlah siswa, ada kebutuhan sarana, biaya operasional, penguatan kompetensi, hingga tuntutan agar lulusan benar-benar memiliki akses menuju dunia kerja.

Kondisi itulah yang menjadi perhatian Kepala SMKN 1 Karawang, H. Rosli, S.Pd. Ia menegaskan bahwa membangun sekolah tidak cukup hanya dengan mengandalkan besarnya anggaran.

Menurut Rosli, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana setiap anggaran dapat diubah menjadi investasi yang memberikan manfaat jangka panjang bagi sekolah dan peserta didik.

280 Komputer dan Tantangan Besarnya Kebutuhan Sarana

Salah satu kebutuhan yang kini menjadi perhatian serius adalah perangkat komputer.

Bertambahnya jumlah rombongan belajar membuat kebutuhan komputer untuk pelaksanaan asesmen dan tes kemampuan akademik ikut meningkat.

“Sekarang kita harus menyediakan kurang lebih 280 komputer yang betul-betul bisa men-support tes kemampuan akademik,” ujar Rosli saat ditemui di ruangannya, Kamis (1/10/2026).

Jika sebelumnya jumlah kelas berada di kisaran 11 kelas, kini berkembang menjadi sekitar 14 hingga 15 kelas. Konsekuensinya, sekolah harus menyiapkan sarana pendukung dalam jumlah lebih besar.

Persoalannya, komputer dengan spesifikasi yang dibutuhkan sekolah bukan barang murah.

Rosli menyebut harga satu unit komputer dapat mencapai sekitar Rp16 juta.

Artinya, kebutuhan ratusan perangkat tersebut membutuhkan perencanaan anggaran yang matang. Penambahan jumlah siswa tidak otomatis membuat kemampuan pendanaan sekolah meningkat dalam proporsi yang sama.

“Angkanya kelihatannya besar, tetapi untuk komputer saja dampak dari penambahan peserta didik ternyata tidak sebanding dengan tambahan yang kita dapatkan dari sisi pendanaan,” katanya.

Anggaran Harus Menghasilkan Nilai Tambah

Bagi Rosli, kondisi tersebut tidak boleh membuat sekolah hanya sibuk menghitung kekurangan anggaran. Sebaliknya, setiap rupiah harus dipikirkan agar menghasilkan manfaat yang lebih panjang.

Ia mencontohkan pembangunan dan perbaikan infrastruktur sekolah.

“Kalau tahun ini saya bisa mengalokasikan Rp80 juta untuk perbaikan, maka tahun depan kita harus berpikir bagaimana ada nilai tambah dari investasi tersebut,” ujarnya.

Pola pikir itu juga diterapkan dalam pengembangan jurusan dan kompetensi keahlian.

Menurutnya, sekolah harus berani berinvestasi pada peralatan praktik. Sebab, siswa SMK tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka harus memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Jangan Sampai Sekolah Kembali ke Titik Nol

Namun, persoalan anggaran bukan satu-satunya pekerjaan rumah.

Rosli justru menempatkan pembangunan sistem sebagai salah satu fondasi utama sekolah.

Ia tidak ingin pergantian kepemimpinan membuat program yang telah dibangun kembali ke titik awal.

“Jangan ganti pola sekolah dari nol lagi, karena sistemnya tidak dibangun,” tegas Rosli.

Menurutnya, sistem yang kuat akan membuat roda organisasi tetap berjalan siapa pun yang memimpin sekolah.

“Siapa pun yang mengelola sistem itu, sistem tetap berjalan. Input-nya apa, output-nya bisa langsung terlihat,” katanya.

Bagi Rosli, ketergantungan terhadap individu justru dapat menjadi kelemahan. Sebaliknya, jika sistem sudah tertata, program sekolah dapat terus berjalan dan dikembangkan oleh kepemimpinan berikutnya.

Karena itu, ia ingin memanfaatkan masa kepemimpinannya untuk meninggalkan fondasi yang dapat menjaga kesinambungan sekolah.

“Saya ingin waktu yang tersedia ini bisa meletakkan fondasi-fondasi yang menjamin keberlangsungan ke depan,” ujarnya.

10 Kelas Industri Disiapkan

Tantangan lain yang tidak kalah besar adalah masa depan lulusan.

Dengan jumlah siswa yang besar, sekolah harus memikirkan bagaimana mereka mendapatkan akses menuju dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

Salah satu strategi yang tengah didorong adalah pengembangan kelas industri.

“Target saya sekitar 10 kelas industri. Dari 24 kelas, 10 di antaranya menjadi kelas industri,” ungkap Rosli.

Kelas industri tersebut diharapkan bukan sekedar program formal, tetapi menjadi ruang kolaborasi antara sekolah dan perusahaan.

Melalui pola tersebut, siswa dapat memperoleh pengalaman dan kompetensi yang lebih dekat dengan kebutuhan industri.

“Kita harus membangun hubungan dengan industri. Bagaimana supaya lulusan kita banyak yang masuk dunia kerja,” katanya.

Tantangan Baru dari Sistem Penerimaan Siswa

Rosli juga mengakui adanya perubahan karakteristik peserta didik yang masuk ke sekolah.

Menurutnya, kondisi SMKN 1 Karawang saat ini tidak dapat dibandingkan begitu saja dengan kondisi 15 tahun lalu. Perubahan sistem penerimaan peserta didik membuat sekolah menghadapi input siswa yang semakin beragam.

“Jangan dibayangkan SMKN 1 Karawang 15 tahun yang lalu dengan SMKN 1 Karawang sekarang. Sistem penerimaan peserta didiknya sudah berbeda jauh,” ujarnya.

Karena itu, sekolah dituntut memiliki strategi pembelajaran dan pembinaan yang mampu mengembangkan potensi siswa dengan latar belakang kemampuan yang beragam.

“Bagaimana kebijakan di dalam sekolah itu supaya kualitas kita tetap luar biasa,” katanya.

Dari Karawang Menembus Jepang

Strategi pengembangan lulusan juga tidak hanya diarahkan ke pasar kerja dalam negeri.

Rosli ingin membuka lebih banyak peluang bagi siswa untuk melanjutkan karier hingga ke luar negeri, salah satunya Jepang.

Pengalaman mengembangkan program pengiriman siswa ke Jepang sebelumnya menjadi modal untuk memperkuat program tersebut.

Kini, sekolah mulai membangun pembinaan bahasa Jepang melalui kegiatan ekstrakurikuler.

“Kita bikin ekstrakurikuler bahasa Jepang. Tapi bukan sekedar ekstrakurikuler untuk kegiatan saja. Kelas tiga saya ingin mereka bisa sertifikasi bahasa Jepang N5 atau N4,” ujarnya.

Dengan sertifikasi tersebut, siswa diharapkan memiliki bekal bahasa yang lebih baik ketika hendak melanjutkan pendidikan atau bekerja di Jepang.

Bagi Rosli, persiapan harus dilakukan sejak bangku sekolah. Bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga bahasa dan kesiapan menghadapi lingkungan kerja internasional.

Mencetak SDM Strategis

Pengembangan siswa, menurut Rosli, juga tidak boleh berhenti pada satu jalur.

Lulusan SMK harus memiliki berbagai pilihan: masuk industri, melanjutkan pendidikan, bekerja di luar negeri, maupun menempuh jalur karier lainnya sesuai kompetensi.

Ia mencontohkan sejumlah siswa yang berhasil melanjutkan pendidikan ke akademi tertentu.

“Ini menjadi sumber daya strategis untuk ke depan,” ujarnya.

Pada akhirnya, Rosli melihat keberhasilan sekolah bukan semata-mata dari seberapa besar anggaran yang terserap atau seberapa banyak bangunan yang berdiri.

Lebih dari itu, keberhasilan sekolah ditentukan oleh kemampuan membangun sistem yang kuat, sarana yang relevan, hubungan dengan industri, serta lulusan yang memiliki kompetensi dan akses terhadap dunia kerja.

Di tengah pertumbuhan jumlah siswa dan semakin kompleksnya kebutuhan pendidikan kejuruan, SMKN 1 Karawang menghadapi tantangan besar: mengubah keterbatasan menjadi strategi dan menjadikan setiap investasi sekolah sebagai fondasi masa depan.

Sebab bagi Rosli, sekolah yang kuat bukan hanya sekolah yang mampu berjalan hari ini.

Sekolah yang kuat adalah sekolah yang sistemnya tetap berjalan, berkembang, dan memberikan manfaat bagi siswa, bahkan ketika orang yang memimpinnya suatu hari nanti berganti.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini