Tuhan, Kembalikan Senyum Mereka! Rikha Permatasari Terpukul Melihat Air Mata Perempuan dan Anak-Anak Blanakan, Ada Apa di Balik Kesunyian Mereka?

0
Caption: Tuhan, Kembalikan Senyum Mereka! Rikha Permatasari Terpukul Melihat Air Mata Perempuan dan Anak-Anak Blanakan, Ada Apa di Balik Kesunyian Mereka?

SUBANG – Di tengah dunia yang berlomba mengejar kekayaan, jabatan, dan kemewahan, ada sebuah kebahagiaan yang nilainya jauh melampaui materi: melihat perempuan dan anak-anak kembali tersenyum, hidup tenang, dan tidak lagi dibayangi ketakutan.

Pesan kemanusiaan itu disampaikan Dr. (c) TNI AD (Purn.) Advokat Rikha Permatasari, S.H., M.H., C.Med., C.LO., C.PIM., Ketua Tim Kuasa Hukum yang tengah mendampingi perempuan dan anak-anak di Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Kunjungan dan pertemuannya dengan mereka meninggalkan kesan emosional yang mendalam. Rikha mengaku menyaksikan air mata dan kesedihan yang begitu dalam hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Bahkan setelah meninggalkan Blanakan, wajah-wajah penuh kesedihan itu masih terus terbayang.

“Bagi sebagian orang, menjadi kaya raya adalah impian. Bagiku, melihat perempuan dan anak-anak di Desa Blanakan, bisa tersenyum kembali dan menjalani hari tanpa rasa takut adalah kebahagiaan yang tak ternilai,” ungkap Rikha, Kamis (5/11/2026).

AIR MATA PEREMPUAN DAN ANAK-ANAK, LUKA KEMANUSIAAN YANG TAK BOLEH DIABAIKAN

Ada pertanyaan besar yang patut menjadi perhatian bersama: mengapa seorang ibu harus kehilangan ketenangan saat mencari nafkah? Mengapa anak-anak harus kehilangan kebebasan untuk belajar, bermain, dan tertawa tanpa rasa takut?

Bagi Rikha, persoalan yang dihadapi perempuan dan anak-anak tersebut bukan sekedar perkara hukum yang selesai dengan dokumen, laporan, atau argumentasi di ruang pemeriksaan.

Di balik setiap cerita, ada manusia yang membutuhkan perlindungan. Ada perasaan yang perlu dipulihkan. Ada kehidupan yang harus kembali dibangun.

Kesedihan yang disaksikannya menjadi pengingat bahwa perjuangan membela hak-hak mereka tidak boleh berhenti di tengah jalan.

BUKAN HARTA YANG DIMINTA, MELAINKAN KEAMANAN DAN KESEMPATAN HIDUP NORMAL

Dalam refleksi yang menyentuh, Rikha menyampaikan doa agar Tuhan meringankan beban yang dipikul para perempuan dan anak-anak tersebut.

Ia berharap para ibu dapat kembali bekerja dan mencari nafkah dengan tenang, sementara anak-anak bisa menikmati masa kecil mereka tanpa kecemasan.

“Tuhan, kali ini kumohon, kabulkan doaku. Ringankan beban yang mereka pikul. Pulihkan rasa aman mereka. Semoga para ibu bisa kembali mencari nafkah dengan tenang, dan anak-anak bisa belajar, bermain, dan tertawa tanpa rasa takut,” tulisnya.

Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa kebutuhan paling mendasar yang mereka harapkan bukanlah kemewahan, melainkan rasa aman, ketenangan, dan kesempatan menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.

RIKHA: KAMI AKAN TERUS MENDAMPINGI DAN MEMPERJUANGKAN HAK MEREKA!

Sebagai Ketua Tim Kuasa Hukum, Rikha menegaskan komitmen untuk terus mendampingi, mendengarkan suara mereka, serta memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak melalui jalur hukum.

Ia juga memohon kekuatan agar dirinya bersama seluruh tim tetap konsisten dalam menjalankan perjuangan tersebut.

“Kuatkan aku dan tim untuk terus mendampingi mereka, mendengarkan suara mereka, dan memperjuangkan hak mereka melalui jalan hukum. Amin.”

Komitmen itu menjadi pesan bahwa pendampingan hukum semestinya tidak hanya berorientasi pada proses formal, tetapi juga memperhatikan kebutuhan pemulihan dan perlindungan orang-orang yang didampingi.

PUBLIK PATUT BERTANYA: SIAPA YANG MENJAMIN MEREKA BISA HIDUP TENANG?

Kisah dari Desa Blanakan menyentuh persoalan yang lebih luas tentang tanggung jawab negara dan masyarakat dalam memastikan perempuan serta anak-anak memperoleh perlindungan.

Rasa aman bukanlah hadiah. Perlindungan bukanlah belas kasihan. Keduanya merupakan hak yang harus dihormati dan dipenuhi.

Karena itu, perhatian terhadap kondisi perempuan dan anak-anak di Blanakan tidak boleh berhenti pada rasa iba atau simpati sesaat. Dibutuhkan kepedulian, pendampingan berkelanjutan, serta langkah nyata sesuai kebutuhan dan ketentuan hukum.

Sebab, tidak ada keberhasilan yang lebih berarti ketika seseorang mampu mengembalikan harapan kepada mereka yang sedang kehilangan ketenangan.

Bagi Rikha Permatasari, mungkin kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak harta yang bisa dikumpulkan, melainkan ketika suatu hari ia kembali ke Blanakan dan menyaksikan wajah-wajah yang dahulu penuh kesedihan kini dihiasi senyuman.

Tuhan, kembalikan senyum mereka. Jangan biarkan perempuan hidup dalam ketakutan. Jangan rampas masa kecil anak-anak dengan kecemasan. Dan jangan biarkan mereka berjuang sendirian.

Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini