KARAWANG | ULASBERITA.CLICK | Di tengah gegap gempita pembangunan infrastruktur dan slogan keadilan sosial, masih ada warga yang tinggal di rumah nyaris roboh, tanpa kepastian bantuan, apalagi perhatian. Salah satunya keluarga Ibu Eti (53), warga Kampung Kopi RT 09/05, Desa Kutalanggeng, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Dinding rumah mereka hanya berupa bilik bambu yang sudah rapuh, atapnya genteng tua yang bolong-bolong, sebagian besar nyaris runtuh. Tiap malam bukan hanya angin dan dingin yang masuk, tapi juga rasa cemas, apakah besok rumah ini masih berdiri?
Edi (25), anak dari Ibu Eti yang juga seorang anak yatim, menyampaikan keluh kesah yang menyayat hati. “Tolong, Pak… rumah kami mau roboh. Kami anak yatim. Kami cuma minta tolong, mohon dibantu,” ujarnya lirih, Jumat (1/8).
Lebih menyedihkan lagi, menurut Edi, keluarga-keluarga seperti mereka kerap luput dari perhatian hanya karena tak punya kedekatan dengan pihak berwenang.
“Di sini kalau gak terlalu dekat sama pemerintah, sering diabaikan. Yang rumahnya masih bagus malah dibantu, kami yang benar-benar butuh malah dilewati,” keluhnya.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar: di mana kehadiran negara saat rakyat kecil bersuara? Saat rumah mau roboh dan keselamatan terancam, adakah kebijakan yang berpihak pada mereka?
Edi berharap agar pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten bisa membuka mata dan telinga. “Kami hanya ingin rumah kami layak. Kalau ada program bedah rumah, tolong lihat kami juga,” tutupnya.
Kisah keluarga Ibu Eti bukan hanya soal kemiskinan, tapi soal keadilan. Dan keadilan sejati bukan tentang siapa yang dekat, tapi siapa yang benar-benar membutuhkan.
Penulis: Alim


