Dari Isu Premanisme ke Aksi Sosial: GSI Karawang Perkuat Jaringan hingga Desa

0
Caption: Dari Isu Premanisme ke Aksi Sosial: GSI Karawang Perkuat Jaringan hingga Desa

Karawang – Di tengah stigma negatif yang kerap melekat pada organisasi kemasyarakatan, Gerakan Siliwangi Indonesia (GSI) Korwil 3 Kabupaten Karawang justru mengambil jalur berseberangan. Alih-alih tampil sebagai organisasi yang sekedar menunjukkan kekuatan, GSI memilih memperkuat struktur hingga ke tingkat desa untuk memastikan aksi sosial benar-benar dirasakan masyarakat.

Ketua Korwil 3 GSI, Rocky Nurdin, menegaskan bahwa konsolidasi organisasi bukan sekedar formalitas administratif. Didampingi Sekretaris Eman Sulaeman, ia menyebut penguatan struktur ini sebagai strategi membangun gerakan yang hidup hingga ke akar rumput.

“Struktur kita sudah lengkap, dari pusat sampai desa. Artinya, ketika masyarakat butuh, kita bisa langsung bergerak tanpa menunggu lama,” ujar Rocky dalam diskusi internal, Minggu (19/4/2026).

Saat ini, GSI telah membentuk struktur berjenjang mulai dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), hingga Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) di tingkat kecamatan, serta ranting di desa. Di wilayah Korwil 3 yang meliputi Batujaya, Pakisjaya, Cibuaya, Pedes, dan Tirtajaya, jumlah anggota diklaim telah menembus lebih dari 300 orang dan tersebar hingga ke desa-desa.

Menurut Rocky, kekuatan utama organisasi bukan pada besarnya jumlah anggota, melainkan pada kecepatan respons terhadap kebutuhan masyarakat.

“Semua kecamatan sudah ada kepengurusan, bahkan sampai desa. Ini yang membuat gerakan kita bisa langsung menyentuh masyarakat,” katanya.

Di sisi lain, GSI secara tegas mengambil jarak dari pola kegiatan seremonial yang kerap menjadi “panggung” organisasi. Mereka mengklaim tidak tertarik pada pencitraan, melainkan pada kerja nyata.

“Kita tidak mengejar terlihat besar. Kita tidak butuh panggung. Yang penting, saat masyarakat butuh, kita hadir,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi respons atas stigma premanisme yang selama ini kerap disematkan pada sebagian organisasi kemasyarakatan. Rocky menegaskan, GSI ingin membangun citra berbeda: sebagai organisasi sosial yang bekerja, bukan sekedar tampil.

“Kita tidak ingin dicap seperti itu. Kita ingin dikenal sebagai organisasi sosial yang benar-benar bekerja,” ujarnya.

Komitmen itu diwujudkan melalui kegiatan rutin “Jumat Bersih” (Jumsih). Dalam kegiatan tersebut, anggota GSI turun langsung ke lapangan untuk membersihkan lingkungan, mulai dari mengangkut sampah, membersihkan saluran air, hingga menyingkirkan eceng gondok di perairan, pekerjaan yang kerap diabaikan.

“Yang orang lain enggan lakukan, justru itu yang kita kerjakan,” ungkap Rocky.

Bagi GSI, gerakan sosial bukan soal momentum, melainkan konsistensi. Nilai gotong royong dan kepedulian disebut menjadi fondasi utama dalam setiap aktivitas organisasi.

“Kita percaya, kebaikan yang kita tanam hari ini akan kembali suatu saat nanti,” katanya.

Ke depan, GSI Korwil 3 menargetkan diri menjadi organisasi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, tanpa memandang latar belakang.

“Harapan kami sederhana, selalu hadir saat masyarakat membutuhkan,” pungkasnya.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini