Diduga Tak Transparan: Proyek Jembatan Sasak Gein di Karawang Diwarnai Pergantian Pekerja, Alat Bermasalah, dan Tanpa Papan Informasi

0
Caption: Diduga Tak Transparan: Proyek Jembatan Sasakian di Karawang Diwarnai Pergantian Pekerja, Alat Bermasalah, dan Tanpa Papan Informasi

KARAWANG — Proyek pembangunan Jembatan Sasak Gein di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, kembali menjadi perbincangan panas di tengah masyarakat. Sejumlah warga Dusun Sumurjaya dan Desa Segaran menyuarakan kekecewaan atas dugaan ketidaktransparanan dan perubahan mendadak dalam proses pengerjaan proyek yang menggunakan uang negara.

Warga mengungkap, sejak awal pengerjaan, khususnya pada tahapan pemasangan besi, pekerjaan telah diserahkan kepada warga lokal melalui sistem borongan. Mereka bahkan mengaku sudah melakukan kesepakatan dengan pihak lapangan terkait pembagian tugas.

“Awalnya pekerjaan besi itu dikerjakan oleh warga lokal. Sistem borongan, kami yang mengerjakan,” ujar warga, Sabtu (8/11/2025).

Namun, tanpa penjelasan jelas, pekerja lokal kemudian digantikan oleh rombongan pekerja dari luar daerah. Warga menyebut keputusan itu dilakukan sepihak dan dianggap menyingkirkan keterlibatan masyarakat sekitar.

“Tiba-tiba ada pekerja dari luar, katanya dari perusahaan. Warga tidak diberi penjelasan,” ungkap warga lainnya.

Dijanjikan Percepatan, Faktanya Justru Mandek

Dalih percepatan pekerjaan tidak sesuai kenyataan di lapangan. Warga menyebut proses pengeboran (bor pile) kerap terhenti karena alat berat bermasalah dan pasokan beton terlambat.

“Operator bor pile malah kembali ke warga lokal. Alatnya bermasalah, sehari paling satu lubang yang jadi,” ujar warga.

Alih-alih mempercepat, proses pembangunan dinilai justru semakin lambat dan tidak terkoordinasi.

Tanpa Papan Proyek: Publik ‘Dibutakan’ dari Informasi Anggaran

Hal lain yang membuat masyarakat geram adalah ketiadaan papan informasi proyek sejak hari pertama pengerjaan dimulai. Tidak adanya papan informasi membuat publik tidak bisa mengetahui nilai proyek, sumber anggaran, lama pekerjaan, serta pihak pelaksana.

“Tidak ada papan proyek dari awal. Masyarakat tidak tahu anggarannya berapa, dikerjakan berapa lama, siapa pelaksananya,” keluh warga.

Padahal, keberadaan papan proyek merupakan kewajiban formal sebagai bentuk transparansi anggaran.

Dampak Serius: Perekonomian Desa Terganggu Menjelang Musim Panen

Warga juga menegaskan bahwa jalan yang tersambung dengan jembatan tersebut menjadi jalur utama distribusi hasil panen. Keterlambatan proyek membuat mobilitas pertanian terhambat.

“Ini berdampak pada ekonomi desa. Panen sudah dekat, tapi akses malah terganggu,” ujar warga.

Sejumlah warga menilai, bila proyek terus molor, bukan hanya akses yang terputus, tetapi potensi kerugian ekonomi bagi petani juga semakin besar.

Warga Menuntut Transparansi, Bukan Konfrontasi

Dalam polemik ini, masyarakat menegaskan bahwa mereka tidak menolak pembangunan. Mereka hanya meminta transparansi dan keterlibatan warga lokal, terutama yang terdampak langsung.

“Proyek ini untuk siapa? Untuk masyarakat. Tapi jangan sampai masyarakat malah tidak dilibatkan dan tidak diberi informasi.”

Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait turun langsung ke lapangan untuk melihat persoalan yang terjadi, bukan hanya menerima laporan dari kontraktor.

Publik berhak tahu ke mana uang negara mengalir.

Warga sudah bersuara, sekarang giliran pihak berwenang menjawab.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini