
KARAWANG – Pernyataan sikap Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) mengundang gelombang kontroversi setelah menyerukan dukungan terhadap praktik korupsi sebagai bentuk kritik terhadap sistem pemerintahan yang dinilai telah gagal.
Dalam pernyataan resminya, BEM UNSIKA menyampaikan narasi yang menyebut agar aparatur negara “korupsi sebanyak-banyaknya” hingga negara mengalami kehancuran total. Pernyataan tersebut sontak memantik perdebatan di ruang publik karena dianggap sangat provokatif dan bertolak belakang dengan semangat pemberantasan korupsi.
Presiden Mahasiswa BEM UNSIKA, Beryl Geovanni Xenoglosi, menjelaskan bahwa pernyataan itu merupakan kritik terhadap sistem yang menurut mereka sudah rusak secara fundamental.
“Menuntut sistem ini untuk jujur adalah ilusi yang memperpanjang penderitaan. Jika pembusukan adalah kepastian, maka tugas sejarah bukan memperlambatnya, melainkan mempercepat pembusukan itu hingga ke tulang sumsumnya,” ujar Beryl dalam pernyataan sikap tersebut, Kamis (9/7/2026).
BEM UNSIKA berpendapat bahwa semakin besar praktik korupsi dilakukan oleh elite, semakin cepat sistem pemerintahan akan mengalami krisis moral dan finansial hingga akhirnya runtuh. Menurut mereka, kondisi tersebut akan membuka jalan bagi lahirnya tatanan baru yang dipimpin generasi muda.
Narasi tersebut menuai beragam respons. Di satu sisi, ada yang menilai pernyataan itu merupakan bentuk kritik politik yang bersifat satiris terhadap buruknya tata kelola negara. Namun di sisi lain, banyak pihak berpotensi memandangnya sebagai pernyataan yang kontroversial karena dapat ditafsirkan seolah memberikan dukungan terhadap tindakan korupsi, yang merupakan tindak pidana dan merugikan masyarakat luas.
Pernyataan sikap BEM UNSIKA ini diperkirakan akan terus menjadi sorotan publik dan memicu diskusi mengenai batas antara kritik politik yang bersifat provokatif dengan pesan yang berpotensi disalahartikan di tengah upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
Penulis: Alim

