Karawang — Langkah berani dilakukan platform transportasi online lokal, GOKAR. Tak sekedar melayani mobilitas masyarakat, kini GOKAR mulai masuk ke dunia pendidikan dengan membawa misi besar: membentuk budaya transportasi aman dan cerdas di kalangan pelajar.
Inisiatif ini digagas langsung oleh Founder GOKAR, Syuhada Wisastra, melalui pertemuan strategis bersama Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMAN Kabupaten Karawang, yang berlangsung di SMAN 5 Karawang, Rabu (29/4/2026).
Pertemuan tersebut bukan sekedar ajang silaturahmi. Di dalamnya, dibahas serius peluang kolaborasi program GOKAR Goes to School, sebuah gerakan edukasi transportasi modern yang menyasar siswa SMA sederajat di Karawang.
Hadir dalam forum tersebut Ketua MKKS, Yunanto yang juga Kepala SMAN 1 Pedes, serta Sekretaris MKKS, Epul Saepul. Keduanya memberikan respons positif terhadap gagasan yang dinilai membawa nilai edukatif sekaligus relevan dengan kebutuhan pelajar masa kini.
Yang menarik, program ini langsung memiliki jadwal konkret. Sosialisasi perdana akan digelar di SMAN 2 Karawang pada 8 Mei 2026, kemudian berlanjut ke SMAN 5 Karawang pada 13 Mei 2026. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa program tidak berhenti sebagai wacana, melainkan siap direalisasikan.
Syuhada Wisastra menegaskan, GOKAR ingin hadir lebih dari sekedar aplikasi transportasi.
“GOKAR adalah karya anak daerah yang ingin memberikan solusi mobilitas yang aman, tepat waktu, dan bersahabat. Kami ingin pelajar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga memahami budaya transportasi yang tertib dan aman,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran sekolah sebagai titik strategis dalam membangun kesadaran sejak dini, terutama terkait keselamatan dan pemanfaatan teknologi secara bijak.
“Kami ingin menciptakan generasi yang tidak hanya melek digital, tetapi juga disiplin dan memiliki kesadaran tinggi terhadap keselamatan di jalan,” tambahnya.
Dukungan dari MKKS semakin memperkuat langkah ini. Yunanto menilai program tersebut memiliki nilai lebih karena menyentuh aspek pembentukan karakter siswa.
“Ini bukan sekedar transportasi. Ada nilai edukasi, kedisiplinan, dan pemanfaatan teknologi. Jika dikemas dengan baik, dampaknya bisa besar bagi siswa,” tegasnya.
Senada dengan itu, Epul Saepul menegaskan bahwa pihak sekolah akan selalu selektif terhadap program yang masuk ke lingkungan pendidikan.
“Selama membawa manfaat edukatif dan nilai keselamatan, tentu kami mendukung. Yang terpenting, siswa mendapatkan dampak positif,” ujarnya.
Masuknya GOKAR ke dunia sekolah menjadi fenomena menarik di tengah dominasi platform transportasi nasional. Kehadiran layanan lokal yang berani masuk ke ruang edukasi dinilai sebagai langkah progresif sekaligus strategi membangun kedekatan dengan generasi muda.
Jika dijalankan secara konsisten, program GOKAR Goes to School berpotensi menjadi lebih dari sekedar sosialisasi. Ia bisa tumbuh menjadi gerakan perubahan, mendorong pelajar Karawang untuk lebih sadar keselamatan, bijak dalam menggunakan teknologi, serta bangga menggunakan produk lokal.


