IGD Disebut “Selalu Penuh”, Publik Meledak: RSUD Jatisari Dihujani Testimoni Pedas, Desakan Evaluasi Menguat

0
Caption: IGD Disebut “Selalu Penuh”, Publik Meledak: RSUD Jatisari Dihujani Testimoni Pedas, Desakan Evaluasi Menguat

Karawang — Gelombang kritik terhadap pelayanan RSUD Jatisari kian membesar. Bukan lagi puluhan keluhan, kini ratusan suara warga bermunculan, membentuk potret yang sama: IGD disebut “penuh terus”, sementara penanganan awal dinilai minim.

Di media sosial, warga menyuarakan pengalaman yang nyaris seragam. Keluhan paling dominan: pasien datang dalam kondisi darurat, namun tidak langsung ditangani dengan alasan kamar penuh.

“Udah berapa kali ke IGD selalu penuh. Tolong dicek Pak Bupati, pelayanannya kurang baik,” tulis salah satu warga.

Keluhan lain bahkan menyoroti hal yang lebih mendasar: logika pelayanan darurat itu sendiri.

“Alasannya selalu nggak ada kamar. Padahal pertolongan pertama dulu harusnya,” komentar akun lainnya.

Tak sedikit yang membandingkan dengan rumah sakit lain. Ada yang mengaku akhirnya memilih pindah karena merasa tidak mendapatkan respons cepat.

“Sampai anak saya lemas, nunggu lebih dari sejam nggak ditangani. Akhirnya pindah ke RS lain, langsung ditangani,” ungkap seorang ibu.

Lebih tajam lagi, beberapa warga menyebut pengalaman traumatis, bahkan hingga kehilangan anggota keluarga.

“Ponakan saya bayi, dibilang NICU penuh terus… akhirnya meninggal,” tulis seorang warganet.

Sementara itu, ada juga suara yang mencoba lebih berimbang. Seorang pasien mengaku pelayanan medis sebenarnya baik dan tidak membedakan BPJS maupun umum, meski tetap mengakui persoalan klasik: keterbatasan kamar dan antrean panjang.

Namun, justru di situlah letak kritik utama publik: masalah bukan sekedar kamar penuh, tapi respons awal di IGD yang dinilai tidak maksimal.

Beberapa komentar bahkan mulai mengarah pada tuntutan serius:

• “Ganti direktur, manajemen tidak beres.”

• “Harus dibenahi total, kalau perlu diganti semuanya.”

• “Laporkan, sekarang ada aturan soal keselamatan pasien.”

• “Demo saja biar didengar.”

Desakan juga diarahkan ke pimpinan daerah. Nama Bupati Karawang hingga tokoh publik seperti Dedi Mulyadi ikut disebut sebagai pihak yang diminta turun tangan.

Fenomena ini memperlihatkan satu hal yang sulit dibantah: krisis kepercayaan publik mulai terbentuk.

Di tengah derasnya kritik, satu pertanyaan besar menggantung: Jika IGD adalah garda terdepan penyelamatan nyawa, lalu apa yang terjadi ketika pintu itu terasa “tertutup” bagi pasien?

Kini publik tidak lagi sekedar mengeluh. Mereka menuntut perubahan nyata, evaluasi menyeluruh, perbaikan sistem, dan yang paling penting: jaminan bahwa setiap pasien yang datang dalam kondisi darurat, akan tetap mendapat penanganan pertama, tanpa alasan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini