
KARAWANG — Pemandangan berbeda terlihat di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Karawang, Senin (25/5/2026). Di balik tembok lembaga pemasyarakatan, para warga binaan justru sibuk mengurus peternakan domba, ayam petelur, hingga sawah dan kolam ikan sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional.
Aktivitas itu mendapat perhatian langsung dari Mashudi yang meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus berbagai program pembinaan produktif di Lapas Karawang.
Didampingi jajaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat, Dirjen PAS meninjau dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) yang menjadi pusat kegiatan ketahanan pangan warga binaan.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah peternakan domba yang dikelola warga binaan asimilasi. Rizki bersama dua rekannya tampak telaten memberi pakan dan merawat puluhan ternak sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian sebelum mereka bebas.
Tak tanggung-tanggung, di area peternakan itu terdapat 46 ekor domba texel betina, delapan domba Garut, tiga domba Suffolk, hingga seekor domba dorper. Selain itu, Lapas Karawang juga mengembangkan peternakan 1.000 ayam petelur hasil kerja sama dengan Balitbangtan Kementerian Pertanian dengan produksi telur mencapai 30 hingga 40 butir per hari.
Program penggemukan lima sapi jenis simental hingga budidaya ikan nila nirwana juga menjadi bagian dari upaya ketahanan pangan yang dijalankan di dalam lapas.
Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Ma’ruf Prasetyo Hadianto, mengatakan program tersebut bukan sekedar aktivitas rutin, melainkan bekal nyata bagi warga binaan untuk kembali ke masyarakat.
“Semoga melalui program ini mereka memiliki bekal keterampilan saat kembali ke masyarakat nanti,” ujar Ma’ruf.
Saat ini, sebanyak 20 warga binaan asimilasi dilibatkan dalam berbagai program ketahanan pangan setelah memenuhi syarat pembinaan dan pembebasan bersyarat.
Tak hanya fokus pada sektor pangan, Lapas Karawang juga mengoperasikan SPPG 008 di atas lahan seluas 400 meter persegi hasil kerja sama dengan Yayasan Bumi Langit Digjaya. Program tersebut melayani empat sekolah dengan total 1.199 penerima manfaat MBG.
Menurut Ma’ruf, SPPG mulai beroperasi sejak 18 Mei 2026 dengan melibatkan 47 relawan, termasuk 18 warga binaan.
Dirjen PAS Mashudi menilai program di Lapas Karawang menjadi contoh nyata bagaimana lembaga pemasyarakatan tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan, tetapi juga mampu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat.
“Warga binaan bukan individu yang harus dijauhkan dari kehidupan sosial, melainkan manusia yang perlu diberikan kesempatan untuk belajar, bekerja, memperbaiki diri, dan kembali menjadi pribadi yang bermanfaat,” kata Mashudi.
Ia menegaskan, program tersebut sejalan dengan prioritas nasional dan program Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya terkait kemandirian pangan dan pembangunan dapur sehat berbasis pemberdayaan warga binaan.
Kegiatan ditutup dengan panen raya padi, penyebaran benih ikan nila nirwana, peninjauan hasil panen, hingga makan bersama seluruh peserta kegiatan.
Penulis: Alim

