
Karawang — Suasana hening di Rawagede mendadak sarat makna. Di tengah gelap malam, ribuan anggota Laskar NKRI berkumpul, bukan sekedar memperingati hari jadi organisasi, tetapi membangkitkan kembali memori kelam bangsa yang tak boleh dilupakan.
Dalam rangka HUT ke-19, LSM Laskar NKRI menggelar renungan malam, tawasulan, dan tabur bunga di Taman Makam Sampurna Raga, kawasan Monumen Rawagede, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, Kamis (9/4/2026) malam.
Sebelumnya, ribuan peserta melakukan napak tilas di Monumen Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok sekitar pukul 21.00 WIB. Tanpa jeda panjang, rombongan langsung bergerak menuju Rawagede, lokasi yang menjadi saksi bisu salah satu tragedi paling memilukan dalam sejarah Indonesia.
Setibanya di lokasi pukul 22.15 WIB, suasana berubah drastis menjadi penuh haru. Puisi “Sukmaku di Rawagede” karya Sukarman menggema di tengah malam, membawa peserta larut dalam kisah pilu Pembantaian Rawagede.
Tragedi tersebut merupakan pembunuhan massal ratusan warga sipil oleh tentara Belanda pada 9 Desember 1947 di Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta. Lewat penuturan langsung Sukarman, peserta tak hanya mendengar sejarah, mereka merasakannya.
Tawasulan pun digelar, doa-doa dipanjatkan untuk para arwah pejuang yang gugur. Momen ini menjadi titik refleksi mendalam, mengingatkan bahwa kemerdekaan dibayar dengan darah dan nyawa.
Sebagai penutup, tabur bunga dilakukan di pusara para korban. Prosesi dipimpin Ketua Umum DPP Laskar NKRI H. ME. Suparno bersama Sekretaris Jenderal H. Nana Taruna.
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya anggota DPRD Jawa Barat Dea Eka Rizaldi, Kapolsek Rawamerta IPTU Ulan Sonjaya, Kepala Desa Balongsari, hingga Ketua Yayasan Rawagede Sunarto.
Acara berlangsung tertib dan khidmat, ditutup dengan ramah tamah hingga pukul 01.00 WIB. Namun pesan yang ditinggalkan jauh lebih panjang: Rawagede bukan sekedar sejarah, ia adalah pengingat keras bagi generasi hari ini.
Pertanyaannya, sudahkah bangsa ini benar-benar belajar dari luka tersebut?

