PR Tak Dikerjakan, Siswa Dicubit hingga Biru: Orang Tua di SMPN 1 Kutawaluya Geram, Tuntut Guru Bertanggung Jawab

0
Captiin: PR Tak Dikerjakan, Siswa Dicubit hingga Biru: Orang Tua di SMPN 1 Kutawaluya Geram, Tuntut Guru Bertanggung Jawab

Karawang – Dunia pendidikan kembali diguncang. Bukan soal prestasi, melainkan dugaan kekerasan yang dilakukan oknum guru terhadap siswa di SMPN 1 Kutawaluya. Alasannya terkesan sepele: pekerjaan rumah (PR) yang tak dikerjakan tuntas.

Orang tua siswa berinisial UJ angkat bicara. Dengan nada kecewa, ia mengungkap bahwa anaknya menjadi salah satu korban hukuman fisik yang diduga dilakukan saat jam pelajaran Bahasa Indonesia, Selasa (21/4/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.

“Anak saya memang belum menyelesaikan PR. Tapi apakah itu alasan untuk menghukum secara fisik? Ini sudah keterlaluan,” tegas UJ, Rabu (22/4/2026).

Yang membuat publik semakin geram, korban bukan hanya satu dua orang. UJ menyebut jumlah siswa yang mengalami perlakuan serupa mencapai hampir 10 orang, bahkan ada yang menyebut hingga belasan.

“Korban banyak. Ada yang sampai tangannya biru. Saya bahkan sempat dokumentasikan sebagai bukti,” ungkapnya.

Menurut penuturannya, siswa yang tidak mengerjakan PR langsung mendapat perlakuan fisik. Alih-alih pembinaan, tindakan tersebut justru meninggalkan luka, bukan hanya di tubuh, tapi juga di mental anak.

“Anak saya pulang dalam keadaan menangis. Tangannya biru. Ini bukan sekedar disiplin, ini kekerasan. Dampaknya bisa ke psikologis,” katanya.

Ironisnya, saat orang tua menunggu pertanggungjawaban, guru yang diduga sebagai pelaku justru tidak muncul.

“Yang datang hanya perwakilan. Gurunya sendiri tidak datang. Harusnya berani bertanggung jawab langsung,” ujar UJ dengan nada kesal.

Meski sempat muncul dorongan dari orang tua lain untuk membawa kasus ini ke ranah hukum hingga ke Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), UJ memilih menahan diri. Namun bukan berarti persoalan dianggap selesai.

“Saya tidak menuntut materi. Saya hanya ingin ada pernyataan resmi dan jaminan ini tidak akan terulang. Jangan sampai anak lain jadi korban lagi,” tegasnya.

Ia juga menyoroti cara mendidik yang dinilai sudah ketinggalan zaman. Menurutnya, banyak cara mendisiplinkan siswa tanpa harus menyentuh fisik.

“Kalau salah, ya beri sanksi mendidik. Suruh bersih-bersih atau tugas tambahan. Bukan dicubit sampai biru. Itu tidak manusiawi,” tambahnya.

Kasus ini memantik pertanyaan serius: masih relevankah pendekatan kekerasan dalam dunia pendidikan? Di tengah gencarnya kampanye sekolah ramah anak, kejadian seperti ini justru menunjukkan masih adanya praktik lama yang belum ditinggalkan.

Kini, sorotan publik mengarah pada pihak sekolah dan dinas terkait. Apakah akan ada tindakan tegas? Atau kasus ini kembali tenggelam tanpa kejelasan?

Satu hal yang pasti, suara orang tua sudah jelas: hentikan kekerasan di sekolah, sekarang juga.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini