Rajin Ibadah, Tapi Apa yang Berubah? Tausiyah Ustadz Nana Gerhana di Maulid Karyasari Sentil Akhlak hingga Amanah Sosial

0
Caption: Rajin Ibadah, Tapi Apa yang Berubah? Tausiyah Ustadz Nana Gerhana di Maulid Karyasari Sentil Akhlak hingga Amanah Sosial

KARAWANG — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Desa Karyasari, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Selasa malam (29/9/2026), bukan sekedar menjadi momentum memperbanyak sholawat dan mengenang keteladanan Rasulullah SAW.

Tausiyah yang disampaikan Ustadz Nana Gerhana justru membawa jamaah pada sejumlah pertanyaan mendasar tentang kehidupan: untuk apa seseorang rajin beribadah jika perilakunya tidak ikut berubah?

Bertempat di lapangan bola PPK5 (GB) Desa Karyasari, Ustadz Nana menyampaikan pesan keagamaan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai dari iman, ibadah, akhlak, kepedulian sosial, hingga pentingnya amanah dalam menjalankan tanggung jawab.

Salah satu pesan yang cukup kuat disampaikan adalah bahwa kesalehan seseorang tidak cukup hanya diukur dari seberapa sering ia berada di masjid atau mengikuti kegiatan keagamaan. Kesolehan juga tercermin dari bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.

“Manusia bukan malaikat yang selalu benar, dan bukan setan yang selalu salah. Manusia bisa benar dan bisa salah,” ujar Ustadz Nana dalam tausiyahnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak mudah memberikan penilaian terhadap seseorang hanya karena melihat satu kesalahan. Sebab, manusia memiliki kekurangan dan setiap orang memiliki ruang untuk memperbaiki diri.

Rajin Salat, Tahajud dan Mengaji, Lalu Apa yang Berubah?

Ustadz Nana kemudian mengajak jamaah merenungkan pertanyaan yang lebih dalam.

Bagaimana perubahan seseorang setelah bertahun-tahun menjalankan ibadah?

Ia mencontohkan seseorang yang selama puluhan tahun melaksanakan salat, tahajud, dhuha, membaca Al-Qur’an, hingga rutin menghadiri pengajian.

Menurutnya, rangkaian ibadah tersebut semestinya tidak berhenti pada aktivitas ritual. Ada perubahan yang seharusnya terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Ibadah idealnya melahirkan pribadi yang lebih sabar, jujur, rendah hati, mampu mengendalikan diri dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Dengan demikian, semakin dekat seseorang kepada Allah SWT, semestinya semakin baik pula hubungan sosialnya dengan manusia.

Al-Qur’an Dibaca, Akhlak Harus Bicara

Dalam tausiyahnya, Ustadz Nana juga mengingatkan jamaah mengenai kedudukan Al-Qur’an.

Menurutnya, membaca Al-Qur’an merupakan ibadah, tetapi memahami dan mengamalkan kandungannya juga menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.

Menghormati Al-Qur’an, kata dia, bukan hanya dengan menjaga mushaf, tetapi juga dengan menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam perilaku.

Kejujuran, kasih sayang, kesabaran, menghormati orang lain, membantu sesama serta menjauhi perbuatan buruk harus tercermin dalam kehidupan.

“Kalau Al-Qur’an kita muliakan, maka perilaku kita juga harus mencerminkan kemuliaan itu,” pesannya.

“Bismillah” Jangan Berhenti di Bibir

Ustadz Nana juga mengangkat kebiasaan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim dalam aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, basmalah bukan sekedar kalimat yang diucapkan sebelum makan, bekerja, bepergian atau melakukan kegiatan lainnya.

Basmalah seharusnya menjadi pengingat agar setiap aktivitas dilakukan dengan niat baik dan tidak bertentangan dengan nilai agama.

Ia mengibaratkan manusia seperti telepon seluler yang memiliki perangkat bagus, sinyal kuat dan kuota mencukupi. Semua fasilitas tersebut tidak akan berarti jika tidak digunakan dengan benar.

Begitu pula dengan ilmu agama.

Seseorang boleh memiliki banyak pengetahuan dan rajin mengikuti pengajian. Namun, ilmu tersebut seharusnya terlihat dalam perilaku nyata.

“Bismillah jangan sebatas ucapan. Harus ada bukti dalam kehidupan,” tegasnya.

Dari Masjid ke Persoalan Masyarakat

Tausiyah Ustadz Nana kemudian melebar pada persoalan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat.

Ia berbicara mengenai harapan masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, kebutuhan pangan, keamanan hingga kesejahteraan.

Menurutnya, kepedulian terhadap persoalan masyarakat merupakan bagian dari nilai keagamaan.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Nana turut menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyampaikan bahwa program yang ditujukan untuk masyarakat, khususnya kelompok yang membutuhkan, harus benar-benar memberikan manfaat dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Ia juga menyinggung pentingnya keterbukaan serta sikap amanah dalam penggunaan anggaran publik.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks tausiyah mengenai tanggung jawab sosial dan amanah terhadap masyarakat.

Puasa Bukan Sekedar Menahan Lapar

Hakikat puasa juga menjadi bagian yang disoroti Ustadz Nana.

Menurutnya, puasa bukan hanya menahan lapar dan haus sejak pagi hingga sore hari. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kesabaran, pengendalian diri, kepedulian terhadap masyarakat miskin serta kemampuan menahan hawa nafsu.

Ia mengajak jamaah merenungkan kembali makna puasa apabila seseorang hanya mampu menahan lapar dan haus, tetapi masih mudah menyakiti orang lain, tidak peduli terhadap sesama atau memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan yang bertentangan dengan nilai moral.

Pesannya sederhana, tetapi mendalam: ibadah seharusnya melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan.

Setiap Orang Punya Jatah, Waktu dan Wadah

Bagian lain yang menarik perhatian jamaah adalah ketika Ustadz Nana membahas konsep “jatah, waktu dan wadah.”

Menurutnya, setiap manusia memiliki bagian masing-masing dalam perjalanan hidup.

Ada yang mendapatkan kesempatan menjadi pemimpin, guru, penceramah, pedagang, pekerja maupun menjalankan profesi lainnya.

Namun, posisi tersebut bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain.

Sebaliknya, setiap kesempatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Ustadz Nana juga mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu sibuk membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.

Setiap orang memiliki perjalanan, kesempatan, waktu dan takdir masing-masing.

Maulid Jangan Berhenti sebagai Seremonial

Di penghujung tausiyah, Ustadz Nana Gerhana mengajak jamaah menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekedar agenda tahunan.

Kecintaan kepada Rasulullah SAW, menurutnya, harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Bukan hanya melalui sholawat, pengajian dan kegiatan seremonial, tetapi juga melalui akhlak, kejujuran, kesabaran, kepedulian serta kemampuan menghargai sesama.

Pada akhirnya, tausiyah tersebut membawa satu refleksi penting:

Ibadah bukan hanya tentang seberapa lama seseorang berada di tempat ibadah, tetapi juga tentang seberapa besar nilai ibadah itu membentuk dirinya menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Desa Karyasari pun menjadi lebih dari sekedar momentum memperbanyak sholawat.

Di tengah suasana keagamaan tersebut, jamaah diajak kembali bercermin tentang iman, akhlak, kemanusiaan, tanggung jawab sosial dan satu pertanyaan penting:

Setelah sekian lama kita beribadah, sudah sejauh mana ibadah itu mengubah diri kita?

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini