
Karawang – Ironi menyelimuti Tugu Kebulatan Tekad, monumen bersejarah yang menjadi simbol persatuan dan perjuangan bangsa. Di balik makna besar yang dikandungnya, fasilitas dasar di kawasan tugu justru dinilai memprihatinkan. Minimnya area parkir menjadi sorotan keras Ketua Umum Paguyuban Tugu Kebulatan Tekad, H. Darwis.
H. Darwis secara terbuka meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang agar tidak menutup mata terhadap kondisi tersebut. Menurutnya, sulit diterima akal sehat jika situs sejarah bernilai nasional tidak ditunjang fasilitas yang layak bagi masyarakat.
“Bagaimana mungkin kita mengaku menghormati sejarah, sementara pengunjung saja kesulitan memarkir kendaraan. Ini bentuk ketidakseriusan dalam merawat warisan perjuangan,” kata H. Darwis dengan nada tegas, Minggu (14/12/2025).
Ia menilai, ketidaktersediaan lahan parkir bukan sekedar persoalan teknis, melainkan cerminan minimnya perhatian terhadap situs bersejarah. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menurunkan minat generasi muda untuk mengenal sejarah perjuangan bangsa melalui Tugu Kebulatan Tekad.
Selain parkir, H. Darwis juga menyoroti ketiadaan pemagaran yang layak dan estetik. Menurutnya, pemagaran bukan hanya soal keamanan, tetapi juga simbol penghormatan terhadap nilai-nilai perjuangan yang melekat pada tugu tersebut.
“Pemagaran harus mencerminkan karakter perjuangan, bukan asal ada. Kalau ini terus diabaikan, jangan salahkan masyarakat jika bertanya: di mana komitmen pemerintah menjaga sejarah?” ujarnya.
Paguyuban Tugu Kebulatan Tekad mendesak Pemda Karawang segera mengambil langkah konkret, bukan sekedar wacana. Publik pun kini menanti, apakah pemerintah daerah akan bergerak cepat, atau membiarkan simbol perjuangan ini terus terpinggirkan.
Penulis: Alim

