Wakasekjen GARDU Aan Karyanto: “Pemimpin Sejati Lahir dari Gang Sempit, Bukan Titipan Kekuasaan”

0
Caption: Wakasekjen GARDU Aan Karyanto: "Pemimpin Sejati Lahir dari Gang Sempit, Bukan Titipan Kekuasaan"

Karawang – Di tengah maraknya kritik terhadap praktik politik yang dinilai lebih mengutamakan kedekatan dibanding kapasitas, Wakil Ketua Sekretaris Jenderal (Wakasekjen) GARDU yang juga Ketua Panitia Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I GARDU, Aan Karyanto, melontarkan pernyataan yang menyentil budaya politik saat ini. Menurutnya, regenerasi kepemimpinan tidak boleh menjadi sekedar pergantian nama atau figur, tetapi harus melahirkan pemimpin yang benar-benar tumbuh dari perjuangan rakyat.

Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka Rakerda I Gerakan Rakyat Dari Utara (GARDU) bertema “Regenerasi Kepemimpinan”, yang digelar di Dusun Trijaya, Desa Sabajaya, Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, Minggu (28/6/2026).

Dalam sambutannya, Aan mengapresiasi seluruh pengurus, anggota, tamu undangan, media, dan masyarakat yang turut mendukung terselenggaranya Rakerda perdana GARDU. Ia mengakui kegiatan itu terlaksana dengan segala keterbatasan, namun justru kondisi tersebut menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong di tubuh organisasi.

“Tanpa dukungan dan semangat kebersamaan, kegiatan ini tidak mungkin terlaksana. Kami sadar masih banyak kekurangan, tetapi justru dari keterbatasan itulah semangat perjuangan lahir,” ujar Aan.

“Lahir dari Warung Kopi, Bukan dari Ruang Kekuasaan”

Pidato Aan menjadi sorotan ketika ia menjelaskan filosofi lahirnya GARDU. Dengan nada tegas, ia menolak anggapan bahwa kepemimpinan harus lahir dari kekuasaan atau restu elite.

“Regenerasi kepemimpinan Gerakan Rakyat Dari Utara lahir dari gang-gang sempit, lahir dari warung-warung kopi, lahir dari semangat perubahan. Bukan lahir karena diciptakan penguasa, bukan karena kepentingan politik, tetapi lahir dari api kecil yang terus menyala menjadi semangat perjuangan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut langsung mendapat tepuk tangan dari peserta Rakerda. Bagi Aan, organisasi yang kuat adalah organisasi yang dibangun dari suara masyarakat, bukan dari kepentingan segelintir orang.

GARDU Siap Jadi Mitra Kritis Pemerintah

Tak hanya berbicara soal regenerasi, Aan juga menegaskan posisi GARDU sebagai organisasi yang akan mengawal sekaligus mengontrol jalannya kebijakan pemerintah.

Menurutnya, setiap kebijakan yang berpihak kepada rakyat patut didukung. Namun jika ada kebijakan yang dinilai mengabaikan kepentingan masyarakat, GARDU tidak akan ragu menyampaikan kritik.

“Organisasi masyarakat harus berani menjadi mitra kritis pemerintah. Kami mendukung kebijakan yang berpihak kepada rakyat, tetapi kami juga akan mengingatkan jika ada kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat,” katanya.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa seseorang tidak boleh aktif di lebih dari satu organisasi.

“Selama tidak melanggar aturan, tidak ada larangan seseorang aktif di organisasi lain. Yang terpenting adalah komitmen untuk terus memperjuangkan kepentingan masyarakat,” tambahnya.

Jangan Berhenti pada Seremoni

Aan berharap Rakerda I GARDU tidak hanya menghasilkan dokumentasi dan seremoni belaka. Ia meminta seluruh peserta melahirkan program kerja yang konkret dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Semua hasil pembahasan hari ini harus menjadi langkah nyata. Jangan sampai hanya menjadi forum diskusi tanpa tindak lanjut,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Aan mengajak seluruh kader menjaga semangat kebersamaan dan optimisme untuk membesarkan GARDU sebagai organisasi yang lahir dari rakyat dan bekerja demi kepentingan rakyat.

Publik Menunggu Bukti, Bukan Sekedar Retorika

Rakerda I GARDU menjadi awal dari komitmen besar organisasi yang mengusung perubahan dari akar rumput. Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya dukungan finansial, GARDU mengklaim ingin membuktikan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari kekuatan modal, melainkan dari kekuatan gagasan, keberanian, dan solidaritas.

Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai. Akankah GARDU mampu membuktikan bahwa slogan “lahir dari rakyat, bekerja untuk rakyat” benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata? Atau justru akan bernasib sama seperti banyak organisasi yang lantang berbicara, tetapi perlahan menghilang tanpa jejak?

Jawaban atas pertanyaan itu kini berada di tangan GARDU sendiri, dan masyarakat Karawang Utara akan menjadi penilai utamanya.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini