
Cianjur — Nama Sela Kopi mendadak jadi perbincangan panas. Tempat usaha yang sebelumnya dikenal sebagai kafe santai itu kini disorot tajam setelah muncul laporan warga terkait dugaan penyimpangan aktivitas, Sabtu (25/4/2026).
Sejumlah warga menyebut, kafe tersebut diduga tidak lagi sekedar tempat ngopi. Aktivitas di dalamnya disebut berubah arah, dengan indikasi konsumsi minuman beralkohol yang dibawa sendiri oleh pengunjung. Lebih mengkhawatirkan, dugaan keterlibatan remaja bahkan pengunjung di bawah umur ikut mencuat ke permukaan.
Kondisi ini langsung memicu keresahan. Warga menilai, jika benar terjadi, praktik tersebut bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga berpotensi merusak lingkungan sosial, terutama bagi generasi muda.
“Ini bukan lagi soal tempat nongkrong, tapi sudah mengarah ke hal yang berbahaya kalau tidak diawasi,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Sorotan juga mengarah pada lemahnya pengawasan di lokasi. Sejumlah saksi menyebut aktivitas pengunjung berlangsung tanpa kontrol yang jelas, seolah tidak ada batasan maupun penegakan aturan di dalam area kafe.
Situasi makin memanas setelah muncul laporan insiden mencurigakan saat salah satu acara hiburan berlangsung. Malam yang awalnya berjalan biasa, tiba-tiba berubah mencekam.
“Awalnya santai, tapi mendadak panik. Banyak yang teriak, mata perih, napas sesak. Semua langsung berlarian keluar,” ungkap seorang saksi.
Diduga, kepanikan dipicu oleh asap pekat yang muncul di sekitar panggung musik DJ. Namun hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait sumber asap maupun kandungan yang menyebabkan gangguan pernapasan tersebut.
Peristiwa ini semakin memperkuat desakan publik. Warga meminta aparat terkait, mulai dari Satpol PP, kepolisian, hingga dinas perizinan, tidak tinggal diam.
Mereka menuntut pemeriksaan menyeluruh, termasuk soal izin usaha, potensi pelanggaran terkait konsumsi alkohol oleh pengunjung di bawah umur, hingga standar keamanan di lokasi hiburan.
“Kalau ada pelanggaran, harus ditindak tegas. Jangan sampai ada pembiaran,” tegas warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Sela Kopi belum memberikan klarifikasi resmi. Publik kini menunggu: apakah ini sekedar isu liar, atau potret lemahnya pengawasan yang selama ini dibiarkan?
Yang jelas, masyarakat menuntut transparansi, dan tindakan nyata. Jika tidak, keresahan bisa berubah jadi kemarahan.

