
Karawang – Ketua Forum Komunikasi Budaya Rengasdengklok, Daday, menyampaikan pidato bernuansa religius dan historis dalam gelaran babarit ke-7 yang berlangsung di Tugu Proklamasi Rengasdengklok, Senin (4/5/2026). Ia menekankan pentingnya menjaga budaya lokal sekaligus menguatkan posisi Rengasdengklok sebagai titik krusial dalam perjalanan sejarah bangsa.
Di hadapan unsur kepolisian, tokoh masyarakat, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta warga, Daday membuka sambutan dengan ungkapan syukur. Ia menyinggung makna simbolik angka tujuh sebagai representasi tujuh lapis langit dan bumi, seraya berharap doa masyarakat yang hadir dapat dikabulkan.
“Ini adalah babarit yang ke-7. Semoga menjadi jalan untuk mendapat ridho Allah dan cita-cita kita semua bisa tercapai,” ujarnya.
Daday juga mengapresiasi dukungan masyarakat dan para donatur, khususnya dari Bojong Tugu 1 dan Bojong Tugu 2, yang telah membiayai kegiatan secara swadaya. Menurutnya, kekuatan utama kegiatan budaya ini terletak pada semangat gotong royong warga.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pelestarian budaya Rengasdengklok harus dimulai dari akar rumput. Ia menyerukan persatuan lintas komunitas seni dan budaya agar potensi lokal tidak terpinggirkan.
“Kita tidak boleh kalah. Budaya yang ada di Rengasdengklok harus kita angkat bersama. Semua komunitas harus bersatu,” tegasnya.
Dalam bagian yang paling menyita perhatian, Daday menyampaikan tafsir berbeda terkait peristiwa menjelang proklamasi. Ia menolak anggapan bahwa Soekarno “diculik” oleh para pemuda, dan memilih istilah “hijrah” untuk menggambarkan perpindahan tersebut.
“Bung Karno bukan diculik atau diasingkan. Tapi dihijrahkan oleh Allah ke Rengasdengklok,” ujarnya.
Ia bahkan membandingkan peristiwa itu dengan hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah, sebuah analogi yang menegaskan dimensi spiritual dalam sejarah nasional. Menurutnya, Rengasdengklok memiliki keistimewaan karena diyakini sebagai tempat yang sarat nilai kesucian dan dihuni para wali.
“Rengasdengklok ini kota sejarah. Tonggak sejarah Republik Indonesia ada di sini. Sejarah tidak bisa dibohongi,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut dinilai berpotensi memicu diskusi publik, terutama terkait pendekatan religius dalam menafsirkan peristiwa sejarah nasional.
Menutup sambutannya, Daday berharap kegiatan budaya ke depan dapat digelar lebih meriah dan inklusif, dengan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat.
“Semoga semua yang hadir hari ini, doa-doanya dikabulkan. Apa yang kita cita-citakan bisa terlaksana tahun ini,” tutupnya.
Pidato ini menjadi penegasan bahwa Rengasdengklok bukan sekedar lokasi historis, tetapi juga ruang hidup yang mempertemukan nilai budaya, spiritualitas, dan semangat kebersamaan masyarakat.
Penulis: Alim

