Merah Putih dari Rengasdengklok: Trisula Jati Diri Sunda, Islam, dan Indonesia Menggema di Hajat Bumi

0
Caption: Merah Putih dari Rengasdengklok: Trisula Jati Diri Sunda, Islam, dan Indonesia Menggema di Hajat Bumi

Karawang – Semangat kebangsaan, religiusitas, dan kearifan lokal berpadu kuat dalam gelaran Hajat Bumi Babarit di Rengasdengklok, Karawang. Dari bubur merah putih hingga kisah hijrahnya Bung Karno, masyarakat menegaskan: identitas Sunda, Islam, dan Indonesia tak bisa dipisahkan.

Rengasdengklok kembali menjadi panggung hidupnya nilai-nilai budaya dan sejarah bangsa. Dalam gelaran Hajat Bumi Babarit yang telah memasuki tahun ke-7, berbagai tokoh masyarakat menyuarakan pentingnya menjaga jati diri yang berpijak pada tiga unsur utama: Sunda, Islam, dan Indonesia.

Edo, pengurus Forum Komunikasi Budaya Rengasdengklok, menegaskan bahwa simbol merah putih bukan sekedar bendera, melainkan telah menyatu dalam kehidupan masyarakat sejak lama. Ia menyebut, filosofi itu bahkan tercermin dalam tradisi bubur beureum jeung bubur bodas, lambang keberanian dan kesucian yang sudah melekat dalam budaya lokal jauh sebelum kemerdekaan.

“Merah itu wani, keberanian urang Sunda. Putih itu suci, niat bersih urang sadaya. Itu bukan simbol baru, itu sudah hidup dalam budaya urang,” ujarnya, Senin (4/5/2026).

Ia juga menyoroti bahwa tradisi babarit bukan sekedar ritual seremonial, melainkan ruang penyembuhan sosial di tengah tekanan ekonomi masyarakat. Dalam kondisi sulit, menurutnya, justru masyarakat semakin mendekat kepada Tuhan dan memperkuat kebersamaan.

“Nu loba ngadoa mah nu keur sarulit. Di situlah urang ngariung, nguatkeun pikiran, lain saukur ngubaran lapar, tapi ngubaran batin,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Budaya Rengasdengklok, Daday, menekankan posisi historis Rengasdengklok sebagai titik penting lahirnya bangsa Indonesia. Ia menegaskan bahwa peristiwa dibawanya Bung Karno ke Rengasdengklok bukan sekedar penculikan, melainkan bagian dari “hijrah” yang memiliki makna spiritual dan historis.

“Rengasdengklok bukan tempat biasa. Ini kota sejarah, tonggak berdirinya Republik Indonesia. Bung Karno dihijrahkan ke sini, bukan diculik,” tegasnya.

Ia bahkan membandingkan peristiwa tersebut dengan hijrahnya Nabi Muhammad SAW, sebagai bentuk refleksi spiritual atas perjalanan bangsa.

Dari sisi pemerintah, Kepala Bidang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Karawang, Waya Karmila, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi masyarakat dalam melestarikan tradisi. Ia menilai, kegiatan seperti Hajat Bumi bukan hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat silaturahmi dan identitas kolektif masyarakat.

“Karawang ini lengkap, punya laut, sawah, gunung, dan budaya. Tapi yang paling penting adalah masyarakatnya yang terus menjaga tradisi. Rengasdengklok punya peran besar dalam sejarah Indonesia,” ujarnya.

Acara ini juga menjadi bukti bahwa keberagaman budaya dapat berjalan seiring dengan nilai nasionalisme dan religiusitas. Dalam satu panggung, terlihat simbol negara, lantunan sholawat, hingga pertunjukan seni tradisional Sunda.

Bagi masyarakat Rengasdengklok, inilah “trisula identitas”, Sunda sebagai akar budaya, Islam sebagai nilai spiritual, dan Indonesia sebagai rumah kebangsaan.

Di tengah arus modernisasi dan tekanan ekonomi, Rengasdengklok menunjukkan bahwa kekuatan sebuah bangsa justru lahir dari kemampuannya merawat akar. Dari bubur merah putih hingga jejak sejarah kemerdekaan, pesan yang disampaikan jelas: identitas bukan untuk dilupakan, tetapi untuk diperjuangkan.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini