Bekasi — Akses vital penghubung antar desa di Kampung Warung Bingung–Cangkring RT 005 RW 002, Desa Sukaasih, Kecamatan Sukatani, kini berubah menjadi jalur penuh lumpur dan kubangan. Jalan yang sebelumnya layak dilalui itu dilaporkan hancur lebur, diduga kuat akibat aktivitas proyek pengurugan tanah di area persawahan yang tidak memperhitungkan dampak terhadap fasilitas umum.
Pantauan di lapangan memperlihatkan kondisi memprihatinkan: aspal terkelupas, badan jalan ambles, serta permukaan yang licin dan berlumpur akibat intensitas lalu lalang kendaraan berat proyek. Situasi ini tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga meningkatkan resiko kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
“Dulu jalan ini bagus, sekarang hancur. Kita yang jadi korban. Setiap hari lewat sini, rasanya was-was,” ujar seorang warga Sukaasih berinisial “P”, Selasa (5/5/2026), dengan nada kecewa.
Lebih dari sekedar kerusakan fisik, warga juga menyoroti minimnya transparansi proyek. Tidak ditemukan papan informasi di lokasi pekerjaan, memicu kecurigaan bahwa proyek tersebut berjalan tanpa kejelasan legalitas atau pengawasan publik. Kondisi ini dinilai bertentangan dengan prinsip keterbukaan informasi yang seharusnya menjadi standar dalam setiap kegiatan pembangunan.
Kemarahan warga kian memuncak. Mereka mendesak pemerintah desa, dinas terkait, hingga DPRD Kabupaten Bekasi untuk segera turun tangan. Tuntutannya tegas: hentikan sementara proyek, audit pelaksana, dan pulihkan kondisi jalan seperti semula.
“Jangan sampai proyek pembangunan malah merusak yang sudah ada. Kalau dibiarkan, ini bukan cuma soal jalan rusak, tapi soal keselamatan warga,” kata warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait. Sementara itu, warga hanya bisa berharap ada tindakan cepat sebelum kerusakan semakin parah dan menelan korban.


