
KARAWANG | ULASBERITA.CILCK | Kegeraman warga Karawang atas praktik rekrutmen tenaga kerja di sejumlah pabrik kembali mencuat. Mr. Kim, salah satu warga yang vokal menyuarakan keresahan ini, melontarkan kritik pedas terhadap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Karawang, namun justru lebih aktif merekrut tenaga kerja dari luar daerah.
“Logikanya sederhana. Pabrik berdiri dan mengeruk sumber daya di Karawang, tapi kenapa yang direkrut justru orang-orang dari luar Karawang?” tegas Mr. Kim. “Kalau memang ingin adil, rekrutmen harus dilakukan secara terbuka, dengan lokasi tes wajib diadakan di Karawang. Silakan kalau pelamarnya dari mana saja, asal prosesnya benar-benar bersih dan transparan.”
Namun, menurutnya, realitas di lapangan jauh dari harapan. Ia menuding adanya praktik diskriminatif yang kerap terjadi dalam proses rekrutmen, di mana latar belakang suku atau daerah asal pimpinan perusahaan menjadi faktor penentu diterima atau tidaknya seorang pelamar.
“Ini bukan soal rasisme, tapi fakta yang terjadi. Ketika satu pabrik dikuasai oleh etnis atau kelompok tertentu, maka peluang kerja lebih besar diberikan kepada orang-orang dari jaringan yang sama,” ujarnya blak-blakan.
Ia juga mengungkap bahwa fenomena “impor tenaga kerja” ke Karawang bukanlah kejadian baru. Bahkan sebelum pabrik resmi beroperasi, bus-bus dari luar daerah sudah tiba membawa rombongan pencari kerja yang direkrut melalui jalur khusus, seperti sekolah tertentu atau koneksi kampung halaman para petinggi perusahaan.
“Sudah sering kami lihat. Pabrik baru dibangun, tapi para pencari kerja dari luar Karawang sudah mengantre. Setelah ditelusuri, rupanya mereka masuk lewat jaringan informal dari para atasan pabrik,” jelas Mr. Kim.
Sebagai warga asli Karawang, ia menyatakan kekecewaannya atas kondisi tersebut. Menurutnya, masyarakat lokal hanya jadi penonton di tanah sendiri, sementara peluang kerja justru dinikmati oleh orang luar.
“Wajar kalau saya marah. Ini tanah kami, tapi justru kami disingkirkan. Apa gunanya pabrik berdiri di Karawang kalau warga lokal tidak diberi ruang untuk ikut berkembang?” tutupnya dengan nada geram.
Penulis: Alim

