Cubitan Biru, Tamparan untuk Dunia Pendidikan: Ketua MKKS Karawang Angkat Bicara

0
Caption: Cubitan Biru, Tamparan untuk Dunia Pendidikan: Ketua MKKS Karawang Angkat Bicara

Karawang — Sorotan publik terhadap dugaan kekerasan di SMPN 1 Kutawaluya kian memanas. Di tengah gelombang kritik dan keresahan orang tua, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Kabupaten Karawang, Asma Wijaya, M.Pd., akhirnya buka suara, dan pesannya tegas: sekolah bukan tempat pelampiasan emosi.

Asma menegaskan bahwa sanksi dalam dunia pendidikan memang masih diperbolehkan. Namun, garis pembatasnya jelas: harus mendidik, bukan menyakiti.

“Namanya juga anak-anak, pasti ada kenakalan. Tapi ketika memberikan sanksi, itu harus yang sifatnya mendidik. Tidak harus dengan kekerasan,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Pernyataan ini datang di saat publik dihadapkan pada foto dugaan luka pada siswa yang beredar luas, memicu kemarahan dan keprihatinan. Bagi Asma, jika dugaan tersebut benar, maka itu bukan sekedar pelanggaran, melainkan kegagalan dalam memahami peran guru.

“Jangan sampai anak dicubit sampai biru, ditonjok sampai bengkak. Itu tidak boleh terjadi. Sekarang ini sudah bukan zamannya lagi seperti itu,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa guru memegang kendali penuh atas emosi di ruang kelas. Dalam kondisi apa pun, tidak ada pembenaran untuk tindakan yang meninggalkan luka fisik, apalagi trauma psikologis.

“Sebagaimanapun kesalnya kepada anak, jangan sampai mencederai, apalagi sampai menimbulkan trauma,” katanya.

Lebih jauh, Asma menyoroti ironi yang terjadi: di saat pendidikan seharusnya membentuk karakter, justru ada praktik yang berpotensi merusaknya. Ia menegaskan bahwa masih banyak metode disiplin yang lebih manusiawi dan efektif.

“Masih banyak sanksi yang mendidik. Misalnya membersihkan kelas atau tugas lain yang bermanfaat. Anak dapat pembinaan, sekolah juga mendapat dampak positif,” jelasnya.

Namun, satu pernyataan yang paling menggugah datang saat ia mengaku baru melihat bukti visual yang beredar.

“Saya baru melihat fotonya. Kalau sampai biru seperti itu, berarti terlalu kuat. Saya sangat menyesalkan jika itu benar terjadi,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Meski belum mengetahui kronologi lengkap, Asma menyerahkan proses klarifikasi kepada pihak terkait. Tapi satu hal yang pasti, kasus ini telah menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan di Karawang.

Di akhir pernyataannya, ia mengingatkan kembali esensi profesi guru: membina, bukan melukai.

“Tugas guru itu membina anak agar menjadi pribadi yang baik, berakhlakul karimah. Jadi ke depan, saya harap semua guru bisa lebih menahan emosi dan mengedepankan pendekatan yang mendidik,” pungkasnya.

Kasus ini kini tak hanya menjadi urusan satu sekolah, melainkan cermin bagi sistem pendidikan secara luas. Pertanyaannya: masihkah ada ruang toleransi bagi kekerasan atas nama disiplin? Atau justru ini saatnya publik menuntut perubahan nyata?

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini