Karawang – Setelah ramai disorot publik terkait dugaan kekerasan terhadap siswa, pihak SMPN 1 Kutawaluya akhirnya angkat bicara. Namun, alih-alih meredakan polemik, respons yang disampaikan justru memantik pertanyaan baru.
Melalui petugas keamanan sekolah, Ifan, Kepala SMPN 1 Kutawaluya, Atik Widiyanti, menyampaikan bahwa pihak sekolah saat ini tengah melakukan penelusuran internal atas insiden yang diduga melibatkan oknum guru terhadap siswa kelas 7B.
Menurut Ifan, langkah awal yang diambil adalah mengutus guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) bersama wali kelas untuk mendatangi rumah orang tua siswa. Hal ini dilakukan karena tiga siswa yang diduga menjadi korban justru tidak masuk sekolah pada hari ini.
“Saat ini guru BP dan wali kelas sudah diutus ke rumah orang tua siswa, karena ketiga siswa tersebut tidak hadir hari ini. Untuk siswa lainnya, pihak sekolah sudah meminta keterangan,” ujar Ifan kepada awak media, Rabu (22/4/2026).
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya awal, namun belum cukup menjawab kegelisahan publik. Pasalnya, hingga saat ini pihak sekolah belum memberikan pernyataan resmi secara terbuka dan komprehensif terkait dugaan kekerasan tersebut.
Atik Widiyanti disebut masih menunggu hasil klarifikasi langsung dari para siswa dan orang tua sebelum mengambil sikap lebih lanjut. Sikap “menunggu” ini justru menuai kritik, mengingat kasus yang disorot menyangkut dugaan kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan.
Di sisi lain, upaya konfirmasi langsung kepada kepala sekolah belum membuahkan hasil. Saat dihubungi melalui pesan WhatsApp maupun panggilan telepon, yang bersangkutan terkesan enggan memberikan klarifikasi kepada media.
Kondisi ini memicu spekulasi di tengah masyarakat. Publik mempertanyakan komitmen transparansi pihak sekolah dalam menangani kasus serius yang menyangkut keselamatan dan psikologis siswa.
Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat, sikap tertutup justru beresiko memperkeruh keadaan. Banyak pihak mendesak agar sekolah segera memberikan penjelasan terbuka, mengambil langkah tegas, serta memastikan perlindungan penuh terhadap para siswa.
Kasus ini kini tidak hanya menjadi isu internal sekolah, tetapi telah berkembang menjadi sorotan publik yang menuntut kejelasan, keadilan, dan tanggung jawab.
Penulis: Alim


