
Karawang – Polemik besar yang membayangi pelaksanaan Invitasi Olahraga Tradisional tingkat Sekolah Dasar se-Kecamatan Tirtajaya di Lapang Bola Medankarya, Senin (12/5/2026), terus bergulir dan semakin memantik reaksi publik. Setelah sebelumnya menuai kontroversi akibat pernyataan pihak penyelenggara yang dinilai melecehkan profesi wartawan, kini sorotan tajam datang langsung dari keluarga peserta didik yang menjadi korban insiden pingsan di arena kegiatan.
Gelombang protes itu mencuat setelah sejumlah orang tua siswa menilai penyelenggaraan acara berlangsung amburadul, minim pengawasan, dan diduga mengabaikan aspek keselamatan anak-anak yang mengikuti perlombaan.
Salah satu kecaman keras disampaikan Aan Karyanto, orang tua siswa yang dikabarkan pingsan saat mengikuti rangkaian lomba olahraga tradisional tersebut. Dengan nada penuh kecewa, Aan menilai panitia gagal menjalankan tanggung jawab dasar dalam menjamin keamanan peserta.
“Secara teknis maupun mekanisme penyelenggaraan, menurut saya acara ini kurang efektif. Yang paling fatal, panitia tidak menyiapkan tim kesehatan sejak awal kegiatan. Padahal ini kegiatan olahraga yang resikonya cukup tinggi dan diikuti anak-anak. Ini menyangkut keselamatan bahkan nyawa peserta,” tegas Aan, Rabu (13/5/2026).
Pernyataan itu langsung memicu perhatian luas masyarakat. Banyak pihak menilai dugaan tidak disiapkannya tenaga medis dalam kegiatan olahraga pelajar merupakan bentuk kelalaian serius yang tidak bisa dianggap sepele.
Kekecewaan keluarga korban semakin memuncak lantaran hingga kini, menurut Aan, tidak ada satu pun perwakilan panitia yang datang memberikan klarifikasi maupun meminta maaf atas insiden yang menimpa anaknya.
“Saya sangat kecewa. Sampai sekarang tidak ada pihak panitia yang datang atau mengonfirmasi kondisi anak saya. Tidak ada penjelasan, apalagi permintaan maaf. Ini bentuk pengabaian yang tidak bisa saya terima,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, Aan juga mengaku siap menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak penyelenggara. Ia menilai panitia telah lalai dalam menjalankan kewajiban perlindungan terhadap peserta didik dalam kegiatan resmi sekolah.
Sorotan tajam juga diarahkan pada dugaan pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) penyelenggaraan kegiatan. Aan mempertanyakan mengapa pihak layanan kesehatan, khususnya Puskesmas, diduga tidak dilibatkan sejak awal sebagai langkah antisipasi resiko medis.
“Saya menduga SOP tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Seharusnya pihak Puskesmas dilibatkan sejak awal, namun dari fakta di lapangan, tidak ada tenaga kesehatan yang disiapkan. Ini patut dipertanyakan dan harus dievaluasi secara serius,” tandasnya.
Jika terbukti terjadi kelalaian, penyelenggara kegiatan berpotensi disorot dari sisi tanggung jawab hukum maupun administratif. Dalam berbagai regulasi perlindungan anak dan penyelenggaraan pendidikan, keselamatan peserta didik merupakan kewajiban utama yang tidak boleh diabaikan dalam setiap aktivitas sekolah, terlebih kegiatan fisik yang memiliki resiko kesehatan.
Rentetan kritik ini semakin memperpanjang daftar persoalan dalam penyelenggaraan Invitasi Olahraga Tradisional Tirtajaya. Ajang yang seharusnya menjadi sarana pembinaan karakter, sportivitas, dan pelestarian budaya lokal justru berubah menjadi pusat kontroversi publik.
Sebelumnya, kegiatan tersebut telah menuai kecaman setelah beberapa siswa dilaporkan pingsan di lokasi acara. Polemik makin melebar ketika muncul pernyataan salah satu pengawas Korwilcambidik yang dianggap merendahkan profesi pers saat awak media berupaya melakukan peliputan dan konfirmasi di lapangan.
Kini, tekanan publik terhadap panitia dan pihak terkait semakin kuat. Masyarakat mendesak adanya evaluasi menyeluruh, investigasi terbuka, serta pertanggungjawaban resmi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Publik pun mempertanyakan satu hal mendasar: bagaimana mungkin kegiatan yang melibatkan keselamatan anak-anak bisa berjalan tanpa kesiapan medis yang memadai?
Penulis: Alim

