
Karawang – Di tengah sorotan tajam publik atas dugaan penolakan pasien bayi, manajemen RSUD Karawang akhirnya angkat bicara. Fakta yang diungkap justru mengejutkan: kapasitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) disebut telah jebol hingga lebih dari 200 persen saat insiden terjadi.
Wakil Direktur RSUD Karawang, Muhammad Parlindungan, menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang menimpa bayi berusia empat bulan berinisial MZP, yang diduga tak sempat mendapatkan penanganan medis dalam kondisi kritis.
Dalam penjelasannya, Parlindungan mengungkapkan bahwa IGD yang idealnya hanya menampung sekitar 30 pasien, saat itu dipaksa melayani lebih dari 50 pasien. Lonjakan drastis ini, menurutnya, berdampak langsung pada mutu pelayanan hingga aspek keselamatan pasien.
Namun pernyataan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru: jika kondisi sudah melampaui batas, mengapa tidak ada skema darurat yang mampu tetap menjamin penanganan pasien kritis?
Manajemen menyebut sistem rujukan seharusnya berjalan berjenjang, dengan mempertimbangkan tingkat kegawatdaruratan. Dalam situasi tertentu, pasien bisa dialihkan ke fasilitas kesehatan terdekat yang masih memiliki kapasitas. Sayangnya, dalam kasus bayi MZP, mekanisme ini diduga tidak berjalan optimal.
Lebih lanjut, pihak rumah sakit mengakui adanya kelemahan dalam sistem triase dan penanganan pasien. Sebuah pengakuan yang mengindikasikan bahwa persoalan ini bukan semata soal lonjakan pasien, tetapi juga kesiapan sistem dalam menghadapi situasi krisis.
Sebagai langkah perbaikan, RSUD Karawang berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh, memperkuat koordinasi dengan pemangku kepentingan, serta meningkatkan kerja sama dengan rumah sakit lain di wilayah sekitar.
Namun publik tampaknya tak lagi cukup puas dengan janji evaluasi. Peristiwa ini membuka luka lama: keterbatasan fasilitas kesehatan yang terus berulang, tanpa solusi konkret yang terasa di lapangan.
Ketika angka kapasitas menjadi alasan, dan sistem belum siap menjawab kondisi darurat, satu pertanyaan besar mengemuka, berapa banyak lagi nyawa yang harus menjadi korban sebelum pembenahan benar-benar dilakukan?
Penulis: Alim

