
KARAWANG — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di SMPN 3 Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, berlangsung bukan sekedar seremoni keagamaan. Momentum tersebut dimanfaatkan pihak sekolah untuk menanamkan keteladanan Rasulullah SAW sekaligus mendorong siswa mengembangkan potensi melalui berbagai kegiatan bernuansa Islami.
Kepala SMPN 3 Rengasdengklok, H. M. Asep Sumarna, S.Pd., M.M., mengatakan rangkaian kegiatan Muludan di sekolah diisi dengan sejumlah lomba keagamaan. Di antaranya lomba membaca Al-Qur’an, puisi keagamaan serta kegiatan literasi yang diarahkan untuk membangun kebiasaan positif di lingkungan sekolah.
Menurut Asep, perlombaan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk memeriahkan peringatan Maulid Nabi. Lebih dari itu, kegiatan menjadi sarana bagi para siswa untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun karakter.
“Kegiatan Muludan diisi dengan lomba-lomba keagamaan, di antaranya Al-Qur’an, puisi keagamaan dan literasi. Ini menjadi bagian dari pembiasaan anak-anak di sekolah,” ujar Asep saat ditemui di sela-sela kegiatan, Kamis (24/9/2026).
Selain perlombaan, peringatan Maulid Nabi juga diisi dengan penyampaian pesan-pesan keagamaan. Hal itu diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada siswa mengenai sosok Rasulullah SAW dan nilai-nilai keteladanan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan Berhenti pada Seremoni
Asep menegaskan, peringatan Maulid Nabi jangan sampai berhenti pada kegiatan membaca sejarah, mendengarkan ceramah, maupun mengikuti acara seremonial.
Menurutnya, esensi yang lebih penting adalah bagaimana siswa mampu mengambil pelajaran dari keteladanan Rasulullah SAW dan menerapkannya dalam kehidupan nyata, baik di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat.
Nilai-nilai seperti berbuat baik, saling membantu, menghormati sesama dan membangun kebiasaan positif, kata dia, merupakan bagian dari keteladanan yang perlu ditanamkan kepada generasi muda.
“Mengikuti sunnah Rasul artinya di antaranya membiasakan berbuat baik dan saling membantu. Anak-anak harus memahami bahwa Rasulullah memberikan keteladanan seperti itu,” katanya.
Asep pun memberikan pesan khusus kepada para siswa agar ilmu dan nilai agama yang mereka pelajari tidak berhenti pada kemampuan membaca atau menghafal.
Ia mengibaratkan siswa jangan hanya menjadi “pembaca ayat”, tetapi harus mampu menjadi “pelaksana ayat” dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan hanya memperingati. Jangan hanya menjadi pembaca, tetapi harus menjadi pelaksana. Apa yang dibaca dan dipelajari, itu yang harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Muludan Sebagai Momentum Membentuk Karakter
Asep menilai pendidikan keagamaan memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Karena itu, momentum Maulid Nabi di SMPN 3 Rengasdengklok diharapkan tidak hanya menghasilkan kemeriahan sesaat, tetapi meninggalkan kebiasaan baik yang terus dilakukan siswa.
Ia berharap nilai-nilai yang disampaikan dalam kegiatan tersebut dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan siswa.
“Muludan bukan sekedar acara tahunan. Yang lebih penting adalah bagaimana pesan dan nilai yang disampaikan bisa menjadi kebiasaan anak-anak dalam kehidupan mereka,” pungkas Asep.
Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi di lingkungan sekolah diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang perjuangan dan keteladanan Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi momentum untuk membentuk generasi yang mampu mengetahui, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Alim

