
Karawang – Karawang kembali bergolak. Dua proyek penggelaran jalan bernilai hampir Rp5 miliar menjadi sorotan tajam setelah aktivis konstruksi Karawang, Ahmad Muslim, melontarkan peringatan keras kepada kontraktor pelaksana, PT Sinar Mulia Konstruksi. Ia menegaskan bahwa publik tak boleh dipaksa menerima pekerjaan “asal jadi” dari proyek dengan nilai sebesar itu.
Proyek pertama berada di kawasan Air Haji, tepat di depan kantor PUPR, membentang lebih dari 1.250 meter dengan lebar 8–9 meter, menelan anggaran Rp2,4 miliar. Sementara proyek kedua di Jalan Tuparev, sepanjang 900 meter dengan lebar 6–14 meter, menghabiskan dana sekitar Rp2,3 miliar.
Meski terkesan mulus di atas kertas, Ahmad Muslim mengingatkan bahwa nilai besar bukan jaminan hasil berkelas.
“Harapan kami, kontraktor bisa bekerja sesuai spek yang ada. Jangan melanggar aturan. Demi menjaga nama baik Karawang,” ujarnya, Senin (01/12/2025).
Ia menegaskan kontrol publik tidak akan berhenti terhadap potensi dugaan pelanggaran teknis, khususnya pengurangan ketebalan jalan, modus klasik yang kerap menjadi sumber masalah proyek infrastruktur.
“Jangan sampai pekerjaan ini jadi persoalan, mengurangi ketebalan, itu yang kami tidak mau. Tolong ikuti spek yang ada,” tegasnya.
Ia juga menyorot bahwa proyek Tuparev harus mendapat perlakuan dan standar yang sama, tanpa pengecualian.
“Baik di Air Haji maupun Tuparev, harapan kami kontraktor bekerja sesuai spek. Jangan sampai ada bentuk pelanggaran yang macam-macam,” tambahnya.
Dengan total anggaran nyaris Rp5 miliar, publik disebut berhak menagih transparansi, kualitas, serta komitmen penuh dari kontraktor dan pengawas. Sorotan kini tertuju pada PT Sinar Mulia Konstruksi, apakah mampu menjawab harapan publik, atau justru memantik gelombang kritik yang lebih besar.
Penulis: Alim

