Sempat Tak Lulus Madrasah, Dasim Kini Jadi Kepala Madrasah dan Dai Ruqyah Syar’iyyah

0
Caption: Sempat Tak Lulus Madrasah, Dasim Kini Jadi Kepala Madrasah dan Dai Ruqyah Syar’iyyah

KARAWANG – Perjalanan hidup seseorang tidak selalu berjalan mulus. Ada yang harus melewati ejekan, kegagalan, hingga penolakan sebelum akhirnya menemukan jalan pengabdian. Kisah tersebut tergambar dalam perjalanan hidup Dasim, seorang anak petani dari kampung yang pernah mengalami kegagalan dalam pendidikan madrasah, tetapi kemudian melanjutkan perjalanan hidupnya di dunia pesantren, pendidikan agama, dan dakwah ruqyah syar’iyyah.

Saat berusia 11 tahun, Dasim duduk di bangku kelas V sekolah dasar negeri. Selain mengikuti pendidikan formal, ia juga menempuh pendidikan agama di sebuah madrasah. Namun, masa kecilnya tidak selalu menyenangkan. Ia kerap menjadi sasaran ejekan teman-teman sekolah maupun tetangganya karena namanya sering dikaitkan dengan Jin Dasim, yang dalam sebagian kepercayaan masyarakat dikenal sebagai jin pengganggu rumah tangga.

Ejekan itu menjadi bagian dari pengalaman pahit yang harus dihadapinya sejak kecil. Tantangan lain datang ketika Dasim dinyatakan tidak lulus dari madrasah tempatnya menimba ilmu agama.

Menurut kisah yang dituturkan Dasim, kegagalan tersebut terjadi di tengah pengaruh dan tekanan dari lingkungan sekitarnya. Ia menyebut kepala madrasah kerap mendapat hasutan dari warga dan sejumlah murid yang merupakan teman-temannya.

Peristiwa itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya. Orang tuanya kemudian memutuskan untuk memindahkan Dasim ke sebuah pondok pesantren.

Menemukan Jalan Pengabdian di Pesantren

Di pesantren, Dasim melanjutkan pendidikan agama sekaligus memperdalam berbagai ilmu yang kelak menjadi bekal dalam perjalanan dakwahnya. Pengalaman hidup dan proses belajar yang dijalaninya membentuk tekad untuk terus mengamalkan ilmu yang diperoleh.

Setelah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren, Dasim merantau ke Karawang. Di tempat perantauan itu, ia mulai mengamalkan ilmu agama yang telah dipelajarinya. Seiring waktu, masyarakat mengenalnya dengan panggilan Ustadz Dasim.

Selain berdakwah, ia juga berusaha mengamalkan pengetahuan tentang ruqyah syar’iyyah yang diperolehnya selama belajar di pesantren dan melalui pengalaman hidupnya.

Salah satu upaya yang dilakukannya adalah mengusulkan kegiatan ruqyah massal di sebuah masjid. Namun, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Kegiatan itu mendapat penolakan dari salah seorang pengurus masjid yang tidak menyetujui pelaksanaannya.

Dasim menuturkan bahwa penolakan tersebut kemudian diikuti penyebaran informasi negatif mengenai kegiatan yang hendak diselenggarakannya. Akibatnya, sebagian masyarakat terpengaruh dan kegiatan ruqyah massal itu akhirnya batal dilaksanakan.

Meski menghadapi penolakan, Dasim tetap berusaha menjalankan dakwahnya melalui pendekatan personal kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Ketika Bantuan Datang dari Orang yang Membutuhkan

Di tengah situasi tersebut, seorang jamaah datang meminta bantuan Dasim untuk mendampingi anaknya yang mengalami perubahan perilaku. Anak yang sebelumnya dikenal berperilaku baik itu disebut mengalami perubahan sehingga menjadi sulit diatur.

Atas permintaan keluarga, Dasim melakukan ruqyah sesuai dengan pemahaman dan praktik keagamaan yang dipelajarinya. Menurut penuturannya, setelah menjalani proses ruqyah dan pembinaan, perilaku anak tersebut berangsur-angsur membaik.

Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan dakwah Dasim di tengah masyarakat. Namun, penolakan terhadap aktivitasnya belum sepenuhnya mereda. Ia mengaku masih menghadapi sikap keberatan dari pihak-pihak yang tidak menyetujui kegiatan ruqyah yang dilakukannya.

Situasi kemudian berubah ketika istri salah seorang pengurus yang sebelumnya menentang kegiatan Dasim mengalami gangguan kesehatan yang disebut tidak kunjung membaik meski telah menjalani berbagai upaya pengobatan.

Dalam kondisi tersebut, pengurus itu akhirnya meminta bantuan kepada Ustadz Dasim untuk melakukan ruqyah.

Dasim menerima permintaan tersebut dan melakukan ruqyah dengan harapan pasien memperoleh kesembuhan. Menurut kisah yang disampaikannya, kondisi perempuan itu kemudian berangsur-angsur membaik.

Meski demikian, pengalaman tersebut tidak serta merta mengubah pandangan pengurus itu terhadap Dasim. Ia masih berpegang pada keyakinannya sendiri mengenai perbedaan pandangan yang selama ini menjadi persoalan di antara mereka.

Tetap Berdakwah di Tengah Ujian

Perjalanan Dasim memperlihatkan bahwa jalan pengabdian tidak selalu terbuka tanpa hambatan. Pengalaman diejek karena nama, kegagalan dalam pendidikan madrasah, hingga penolakan ketika mulai berdakwah menjadi bagian dari kisah hidup yang ia lalui.

Dari seorang anak petani yang pernah menghadapi kesulitan di bangku pendidikan agama, Dasim melanjutkan perjalanan melalui pesantren dan perantauan. Ia kemudian mengabdikan diri dalam pendidikan agama serta dakwah ruqyah syar’iyyah.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa kegagalan pada satu tahap kehidupan tidak harus menjadi akhir dari perjalanan seseorang. Ketekunan belajar, kesediaan untuk terus memperbaiki diri, dan komitmen dalam mengamalkan ilmu dapat menjadi bekal untuk menempuh jalan pengabdian.

Bagi Dasim, pengalaman masa lalu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam menghadapi berbagai ujian. Ia berusaha tetap melangkah dan menjalankan dakwah di tengah beragam tanggapan masyarakat.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari upaya seseorang untuk terus belajar, mengabdi, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini